Selasa, 16 Desember 2014

SAMPINGAN





  • Ini adalah sebuah program kerja paruh waktu yang bebas dari penipuan – Anda dibayar untuk mengisi formulir online.
  • Pekerjaan yang sangat sederhana – tidak memerlukan keahlian khusus, atau pengalaman kerja di bidang tertentu.
  • Sangat mudah dikerjakan, disertai instruksi detail langkah demi langkah yang harus Anda lakukan.
  • Pekerjaan yang sangat mudah, cepat, dan menguntungkan.
  • Dikerjakan pada paruh waktu dan dibayar tunai, segera, tanpa ditunda-tunda.
  • Dapatkan Rp. 3 juta hingga Rp. 15 juta setiap minggu, silakan Anda habiskan, tak ada potongan apapun, dalam bentuk apa pun, atas alasan apa pun.
  • Dapatkan uang tunai instan dan cepat, silakan Anda belanjakan atau bayarkan untuk kepentingan Anda sendiri.
  • Pekerjaannya terjamin dan berkesinambungan – jaminan Anda untuk selalu bisa dapat uang.
  • Bisa Anda mulai segera – Anda tinggal gabung dan mulai kerja.
  • Waktu kerja yang singkat – hanya 1 – 2 jam per hari, sehingga cukup waktu bagi Anda untuk melakukan kegiatan lainnya.
  • Anda bisa kerja dimanapun – bisa dari rumah, dari warnet, dari HP, dari BB, selama ada koneksi internet Anda bisa bekerja.
  • Ini adalah sebuah program kerja paruh waktu yang bebas dari penipuan – Anda dibayar untuk mengisi formulir online.
  • Pekerjaan yang sangat sederhana – tidak memerlukan keahlian khusus, atau pengalaman kerja di bidang tertentu.
  • Sangat mudah dikerjakan, disertai instruksi detail langkah demi langkah yang harus Anda lakukan.
  • Pekerjaan yang sangat mudah, cepat, dan menguntungkan.
  • Dikerjakan pada paruh waktu dan dibayar tunai, segera, tanpa ditunda-tunda.
  • Dapatkan Rp. 3 juta hingga Rp. 15 juta setiap minggu, silakan Anda habiskan, tak ada potongan apapun, dalam bentuk apa pun, atas alasan apa pun.
  • Dapatkan uang tunai instan dan cepat, silakan Anda belanjakan atau bayarkan untuk kepentingan Anda sendiri.
  • Pekerjaannya terjamin dan berkesinambungan – jaminan Anda untuk selalu bisa dapat uang.
  • Bisa Anda mulai segera – Anda tinggal gabung dan mulai kerja.
  • Waktu kerja yang singkat – hanya 1 – 2 jam per hari, sehingga cukup waktu bagi Anda untuk melakukan kegiatan lainnya.
  • Anda bisa kerja dimanapun – bisa dari rumah, dari warnet, dari HP, dari BB, selama ada koneksi internet Anda bisa bekerja.


Saya ingin mengajak Anda untuk turut menikmati asyiknya pekerjaan online yang sangat menguntungkan dan nikmatnya mendapatkan penghasilan Rp. 3 hingga 15 juta rupiah per minggu, bahkan ditambah dengan gaji tetap sebesar Rp 2.000.000,-* setiap bulan !
Bila angka ini terdengar menarik bagi Anda, lanjutkan membaca hingga akhir. biarlah saya menjelaskan pada Anda secara detail dan terperinci bagaimana caranya agar Anda pun bisa bergabung dan mencapai pendapatan seperti itu tanpa mengalami kesulitan.
Anda dapat dengan mudah menghasilkan Rp. 3.000.000 – 15.000.000 atau lebih setiap minggunya dengan cara bekerja online untuk kami dari rumah Anda cukup dengan melakukan login ke member-area Anda dan mengisi data pada formulir online yang telah kami siapkan bagi member.
Program ini telah terbukti begitu efektifnya dalam mendapatkan uang sehingga membawa banyak perubahan nyata bagi para member terdahulu kami. Program yang kami tawarkan ini benar-benar ada, dan terbukti bisa dikerjakan oleh siapa saja.
Ini bukan tipuan bisnis "cepat kaya" yang pada dasarnya hanyalah fatamorgana yang akan menjerumuskan Anda dengan impian menjadi kaya mendadak setelah mengiming-iming Anda dengan janji palsu. Program ini BENAR-BENAR membuahkan hasil, dan Anda akan segera mengetahuinya.
Lebih jauh lagi, Anda akan jauh merasa lebih lega setelah mengetahui bahwa program ini bukanlah program lipat amplop, multilevel marketing, cold-calling atau program "cepat kaya" lainnya yang menawarkan janji muluk tanpa membuahkan hasil.
Bahkan saya yakin Anda belum pernah menjumpai atau mendengar ada program seperti ini dimanapun juga sebelumnya. Saya menawarkan pada Anda sebuah peluang kerja paruh waktu yang nyata dan terbukti dapat mengubah hidup Anda selamanya!
Tidak seperti program lain yang ada di luar sana yang ternyata menawarkan sistem kerja konyol serta mustahil dan berakhir dengan Anda tertinggal sendirian gigit jari; di sini kami benar-benar memberi Anda suatu tugas yang NYATA dan MASUK AKAL, bila Anda mengerjakannya kami akan membayar jasa dari pekerjaan Anda.
Dedikasi kami pada program ini telah berjalan dan diterima baik secara online maupun offline.
Kami memiliki reputasi yang baik yang datang dari penghargaan dan terima kasih dari para member kami. Ini adalah suatu bukti bahwa kami benar-benar telah menepati apa yang kami janjikan pada mereka dengan memberi pekerjaan serta memberi bayaran atas pekerjaan para member setia kami tanpa pernah ada satupun yang merasa dipersulit.
Inilah pekerjaan yang Anda butuhkan !
Yang paling menariknya lagi, program ini BISA DIKERJAKAN OLEH SEMUA ORANG, DIMANAPUN, KAPANPUN... Semua orang bisa dapat uang dari program ini.
Program ini sama sekali tidak membutuhkan keahlian khusus, pelatihan khusus, strata pendidikan, ataupun pengalaman kerja tertentu. Benar-benar untuk semua orang.
Yang Anda butuhkan hanyalah akses ke internet cukup beberapa kali dalam seminggu. Ini adalah model program sempurna yang memungkinkan Anda untuk mencari uang dari rumah. Tidak peduli apakah Anda seorang pengangguran, seorang karyawan baru (yang masih berjuang mencapai sukses), seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari tinggal di rumah, seorang pelajar, seorang pensiunan, atau apapun status Anda, bila Anda ingin mendapatkan penghasilan extra, maka program inilah jawabannya. Inilah peluang yang paling ideal untuk Anda mulai dan tekuni sekarang juga.
Program paruh waktu ini dapat dikerjakan dari manapun juga di seluruh Indonesia, selama Anda dapat tersambung ke internet. Member kami berasal dari seluruh pelosok Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.
Hanya dengan 20 menit sehari, sudah lebih dari cukup untuk mendapatkan penghasilan tambahan yang jauh lebih besar dari yang Anda bayangkan. Anda tidak perlu lagi bingung memikirkan masa depan Anda lagi.
Baca dengan seksama dan pelajari dulu penawaran saya, agar Anda tidak menyesal nanti. Akan saya tunjukkan beberapa bukti bahwa program ini benar-benar berhasil!
Jangan lewatkan peluang ini. Kesempatan seperti ini belum tentu datang sekali dalam seumur hidup!
  • Ucapkan selamat tinggal pada problem keuangan dan kewajiban Anda kerja banting tulang, sekali dan untuk selamanya. Ikuti program ini dan dapatkan uang tunai pada menit yang sama saat Anda mulai kerja. Tanpa harus menunggu, tanpa repot, tanpa basa-basi.
  • Program ini telah berjalan selama beberapa tahun, memiliki banyak sekali member setia yang berbahagia dengan bekerja untuk kami. Hal yang sama dapat terjadi pada Anda.
  • Kami sangat berpengalaman dalam bidang ini sehingga telah tercipta stabilitas dan profitabilitas usaha dalam program ini yang mampu menuntun Anda setapak demi setapak menuju sukses tanpa halangan.
  • Yang kami tawarkan adalah suatu program nyata bukan tipuan dan menjamin keberlangsungan pekerjaan serta pembayaran jasa Anda, sehingga Anda dapat bekerja selama mungkin, tanpa takut kekurangan uang lagi, selamanya.
  • Program ini unik, eksklusif bagi kami dan tidak tersedia dimanapun. Kami telah mematenkan formulasi sukses ini dan hingga kini masih belum tertandingi. DIBANDINGKAN DENGAN PROGRAM LAINNYA : MIRIP-PUN TIDAK.
  • Kami bahkan memberikan tambahan bonus sebesar Rp 200.000,- sebagai hadiah perkenalan bagi member baru kami untuk menunjukkan penghargaan kami atas antusiasme Anda.
Dapatkan penghasilan extra yang benar-benar signifikan cukup hanya dari bekerja di rumah Anda! Tidak ada jam kerja, Anda boss nya!
  Tidak perlu jualan
  Tidak perlu membeli produk, jasa, sampel, atau stok barang
  Tidak perlu menjual produk atau jasa
  Tidak perlu website
  Tidak perlu mengontak atau berurusan dengan pembeli
  Tidak perlu jungkir-balik banting-tulang

Anda akan mendapat bayaran untuk setiap form sederhana yang Anda kirimkan online!Kami benar-benar menghargai pekerjaan Anda Rp 10.000,- per pengiriman. Pikirkan lagi... Berapa banyak yang dapat Anda isi setiap hari ???
Bukan hanya itu, daftarkan diri Anda sekarang dan ikuti instruksinya, lalu saksikan uang mengalir masuk ke rekening Anda hari demi hari, bulan demi bulan!!!!
Tidak hanya sampai di situ, kami juga menambahkan gaji tetap sebesar Rp 2.000.000,- per bulan di luar pendapatan Anda per pengiriman data untuk setiap total pembayaran Rp 2.000.000,- atau lebih. Misalnya Anda pada bulan ini mendapatkan pembayaran sebesar Rp 2.400.000,-, maka Anda mendapatkan tambahan bonus gaji sebesar Rp 2.000.000,-, sehingga yang Anda dapatkan pada bulan itu adalah Rp 4.400.000,-.
Anda Menerima Rp 10.000,- Per Submit
SubmitPendapatan anda
Per HariPer HariPer MingguPer Bulan+ BasicTotal
20Rp 200.000,-Rp 1.400.000,-Rp 6.000.000,-Rp 2.000.000,-Rp 8.000.000,-
50Rp 500.000,-Rp 3.500.000,-Rp 15.000.000,-Rp 2.000.000,-Rp 17.000.000,-
100Rp 1.000.000,-Rp 7.000.000,-Rp 30.000.000,-Rp 2.000.000,-Rp 32.000.000,-
200Rp 2.000.000,-Rp 14.000.000,-Rp 60.000.000,-Rp 2.000.000,-Rp 62.000.000,-



Mudah bukan ? Sama sekali TIDAK perlu berjualan atau mengontak siapapun dan sudah pasti Anda tidak perlu website.
Program ini sepenuhnya dijalankan dari rumah Anda sendiri..
Tidak memerlukan waktu lama dan Anda bisa mulai kerja segera.
Cukup 20 menit setiap harinya untuk mendapatkan jutaan rupiah setiap minggu.
Program ini TIDAK DIBATASI QUOTA, dan tidak diawasi oleh siapapun.
Anda dapat bekerja banyak ataupun sedikit, sepenuhnya sesuka hati Anda. Kami akan membayar sebesar Rp 10.000,- per data yang Anda kirim.

buat yg pengen punya sampingan, caranya mudah tinggal ngisi data nama dan email di bayar 10.000/data.sbagai contoh 1hr min ngisi data 20x10.000= 200.000rb hanya membutuhkan sedikit waktu 10-15 menit.
o iya stelah anda masuk nanti ada DEMOnya gratis kok. Info selengkapnya klik http://www.penasaran.net/?ref=qtyfwy

Senin, 29 September 2014

sunah-sunah

 

“SUNAH-SUNAH RASULULLAH YANG SERING DI LUPAKAN 

1. Mendahulukan Kaki Kanan Saat Memakai Sandal Dan Kaki Kiri Saat Melepasnya

 2. Menjaga Dan Memelihara Wudhu 

3. Bersiwak (Menggosok Gigi dengan Kayu Siwak) 

4. Shalat Istikharah 

5. Berkumur-Kumur Dan Menghirup Air dengan Hidung Dalam Satu Cidukan Telapak Tangan Ketika Berwudhu 

6. Berwudhu Sebelum Tidur Dan Tidur Dengan Posisi Miring Ke Kanan

7. Berbuka Puasa Dengan Makanan Ringan 

8. Sujud Syukur Saat Mendapatkan Nikmat Atau Terhindar Dari Bencana 

9. Tidak Begadang Dan Segera Tidur Selesai Shalat Isya` 

10. Mengikuti Bacaan Muadzin 

11. Berlomba-Lomba Untuk Mengumandangkan Adzan, Bersegera Menuju Shalat, Serta Berupaya Untuk Mendapatkan Shaf Pertama. 

12. Meminta Izin Tiga Kali Ketika Bertamu 

13. Mengibaskan Seprei Saat Hendak Tidur 

14. Meruqyah Diri Dan Keluarga 

15. Berdoa Saat Memakai Pakaian Baru 

16. Mengucapkan Salam Kepada Semua Orang Islam Termasuk Anak Kecil 

17. Berwudhu Sebelum Mandi Besar (Mandi Junub) 

18. Membaca ‘Amin’ Dengan Suara Keras Saat Menjadi Makmum 

19. Mengeraskan Suara Saat Membaca Zikir Setelah Shalat 

20. Membuat Pembatas Saat Sedang Shalat Fardhu Atau Shalat Sunnah 

 

“Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang mengikuti sunnah RasulMu dan mengikuti jejaknya. Ya Allah, kumpulkanlah kami dan kedua orang tua kami bersamanya di surga, aamiin.” Tolong sekalian point-point yang lain, apakah benar merupakan sunnah dan ada dalilnya? Saya kok ragu. Tp saya tidak menguasai ilmunya. Kasihan teman-teman yg sudah menerima broadcast tulisan di atas. (Anonim) Jawaban : Bismillah. Alhamdulillah, semoga shalawat serta salam selalu tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam, keluarganya serta para sahabatnya, kemudian kepada mereka yang setia mengikuti beliau hingga akhir zaman, radhiyallahu ‘anhum jamii’an. Yang disebut diatas adalah bagian dari Sunnah-sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam kehidupan sehari-hari. Berikut dalil-dalilnya. 

 

1. Mendahulukan Kaki Kanan Saat Memakai Sandal Dan Kaki Kiri Saat Melepasnya Dalilnya diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhaariy rahimahullah :

 حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيَمِينِ وَإِذَا نَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ لِيَكُنْ الْيُمْنَى أَوَّلَهُمَا تُنْعَلُ وَآخِرَهُمَا تُنْزَعُ

 Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Maslamah, dari Maalik, dari Abu Az-Zinaad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian memakai sandal, maka hendaklah memulai dengan kaki yang kanan, dan apabila melepasnya hendaklah memulai dengan kaki yang kiri, agar yang kanan menjadi yang pertama kali mengenakan dan terakhir melepasnya.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 5856; Shahiih Muslim no. 2099] 

 

2. Menjaga Dan Memelihara Wudhu Al-Imam Ibnu Maajah rahimahullah berkata :

 حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمْ الصَّلَاةَ وَلَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ

 Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Sufyaan, dari Manshuur, dari Saalim bin Abul Ja’d, dari Tsaubaan radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Beristiqamahlah kalian! Dan kalian tidak akan pernah bisa melakukannya (namun berusahalah kalian untuk menetapinya). Ketahuilah kalian bahwa sebaik-baik amalan kalian adalah shalat, dan tidaklah menjaga wudhu’ kecuali seorang mu’min.” [Sunan Ibnu Maajah no. 277, 278, 279; Sunan Ad-Daarimiy no. 655]– Shahih lighairihi. Dishahihkan Al-Haafizh Al-Mundziriy dalam At-Targhiib wa At-Tarhiib 1/130, dan disepakati Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahiih Ibnu Maajah no. 226. Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhaariy :

 حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ خَالِدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِلَالٍ عَنْ نُعَيْمٍ الْمُجْمِرِ قَالَ رَقِيتُ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ عَلَى ظَهْرِ الْمَسْجِدِ فَتَوَضَّأَ فَقَالَ إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوءِ فَمَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ

 Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Bukair, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari Khaalid, dari Sa’iid bin Abu Hilaal, dari Nu’aim Al-Mujmir, ia berkata, aku menuju masjid yang nampak bersama Abu Hurairah, kemudian berwudhu’, Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya aku mendengar Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya ummatku akan dikumpulkan di hari kiamat dengan anggota tubuh bersinar karena bekas-bekas wudhu’, maka barangsiapa diantara kalian mampu untuk memanjangkan cahayanya hendaklah ia lakukan.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 136; Shahiih Muslim no. 248] 

 

3. Bersiwak (Menggosok Gigi dengan Kayu Siwak) Sangat banyak dalil-dalil yang menunjukkan kalau Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyukai bersiwak, diantaranya adalah :

 أَخْبَرَنَا حُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى، عَنْ يَزِيدَ وَهُوَ ابْنُ زُرَيْعٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي عَتِيقٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، قَالَ: سَمِعْتُ عَائِشَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

 “ Telah mengkhabarkan kepada kami Humaid bin Mas’adah dan Muhammad bin ‘Abdil A’laa, dari Yaziid -dan dia adalah Ibnu Zurai’-, ia berkata, telah menceritakan kepadaku ‘Abdurrahman bin Abi ‘Atiiq, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Ayahku, ia berkata, aku mendengar ‘Aaisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Siwak adalah kebersihan untuk mulut dan mendatangkan ridha Rabb.” [Sunan An-Nasaa'iy Ash-Shughraa no. 5]– Hasan.

 Dishahihkan Al-Haafizh Al-Mundziriy dalam At-Targhiib 1/133; Al-Imam An-Nawawiy dalam Al-Majmuu’ 1/267; Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahiih An-Nasaa’iy.

 حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ، حَدَّثَنَا ابْنُ بِشْرٍ، عَنْ مِسْعَرٍ، عَنْ الْمِقْدَامِ بْنِ شُرَيْحٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ، قُلْتُ: ” بِأَيِّ شَيْءٍ كَانَ يَبْدَأُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ؟ قَالَتْ: بِالسِّوَاكِ

 “ Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin Al-‘Alaa’, telah menceritakan kepada kami Ibnu Bisyr, dari Mis’ar, dari Al-Miqdaam bin Syuraih, dari Ayahnya, ia berkata, aku bertanya kepada ‘Aaisyah, “Dengan apa yang Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam lakukan pertama kali ketika memasuki rumahnya?” ‘Aaisyah menjawab, “Beliau bersiwak.” [Shahiih Muslim no. 255; Musnad Ahmad no. 25465]

 حَدَّثَنَا عُثْمَانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ حُذَيْفَةَ، قَالَ: ” كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ

 “ Telah menceritakan kepada kami ‘Utsmaan, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Jariir, dari Manshuur, dari Abu Waa’il, dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Dahulu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam jika bangun malam ia menggosok mulutnya dengan siwak.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 246; Shahiih Muslim no. 257]

 حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ” لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي أَوْ عَلَى النَّاسِ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلَاةٍ

 “ Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Yuusuf, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Maalik, dari Abu Az-Zinaad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika bukan karena memberatkan ummatku atau manusia, maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan shalat.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 887; Jaami' At-Tirmidziy no. 22]

 Bahkan di saat-saat terakhir beliau pun masih meminta siwak kemudian diambilkan oleh ‘Aaisyah, diratakan ujung-ujungnya kemudian diberikan kepada beliau yang berada di pangkuannya. Semua ini menunjukkan keutamaan dan sunnahnya bersiwak di setiap waktu, tidak hanya ketika akan memulai shalat. 

 

4. Shalat Istikharah Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhaariy :

 

 حَدَّثَنَا مُطَرِّفُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَبُو مُصْعَبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي الْمَوَالِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَالسُّورَةِ مِنْ الْقُرْآنِ إِذَا هَمَّ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِي وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ

 

 Telah menceritakan kepada kami Mutharrif bin ‘Abdullaah Abu Mush’ab, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Abul Mawaal, dari Muhammad bin Al-Munkadir, dari Jaabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah mengajarkan shalat istikharah kepada kami untuk setiap perkara, sebagaimana mengajarkan surat dari Al Qur’an, beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian berkeinginan keras untuk melakukan sesuatu, maka hendaklah dia mengerjakan shalat dua raka’at di luar shalat wajib, dan hendaklah dia berdo’a, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk kepadaMu dengan ilmuMu, memohon ketetapan dengan kekuasanMu, dan aku memohon karuniaMu yang sangat agung, karena sesungguhnya Engkau berkuasa sedang aku tidak berkuasa sama sekali, Engkau mengetahui sedang aku tidak, dan Engkau Maha Mengetahui segala yang ghaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa keperluan ini (kemudian ia menyebutkan langsung keperluan yang dimaksud) lebih baik bagi diriku dalam agama, kehidupan, dan akhir urusanku –atau mengucapkan, “Baik dalam waktu dekat maupun yang akan datang-“, maka tetapkanlah ia bagiku dan mudahkanlah ia untukku. Kemudian berikan berkah kepadaku dalam menjalankannya. Dan jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk bagiku dalam agama, kehidupan dan akhir urusanku –atau mengucapkan, “Baik dalam waktu dekat maupun yang akan datang-“, maka jauhkanlah urusan itu dariku dan jauhkan aku darinya, serta tetapkanlah yang baik itu bagiku di mana pun kebaikan itu berada, kemudian jadikanlah aku orang yang ridha dengan ketetapanMu tersebut,” Beliau bersabda, “Hendaklah sebutkan keperluannya.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 6382] 

 

5. Berkumur-Kumur Dan Menghirup Air dengan Hidung Dalam Satu Cidukan Telapak Tangan Ketika Berwudhu Disunnahkan ketika berwudhu’ untuk berkumur-kumur (Al-Madhmadhah), menghirup air dengan hidung (Al-Istinsyaq), kemudian mengeluarkannya (Al-Istintsar), semua dalam satu cakupan telapak tangan. Dalil-dalilnya adalah :

 حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عَطَاءُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ دَعَا بِوَضُوءٍ فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إِنَائِهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الْوَضُوءِ ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ…ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا

 Telah menceritakan kepada kami Abul Yamaan, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Syu’aib, dari Az-Zuhriy, ia berkata, telah mengkhabarkan kepadaku ‘Athaa’ bin Yaziid, dari Humraan maulaa ‘Utsmaan bin ‘Affaan, bahwasanya ia melihat ‘Utsmaan bin ‘Affaan radhiyallahu ‘anhu meminta diambilkan air untuk berwudhu’. Ia lalu menuang bejana itu pada kedua tangannya, lalu ia basuh kedua tangannya tersebut hingga tiga kali. Kemudian ia memasukkan tangan kanannya ke dalam air wudhunya, kemudian berkumur, memasukkan air ke dalam hidung dan mengeluarkannya…kemudian ‘Utsmaan berkata, “Aku melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam berwudhu’ seperti wudhu’ku ini.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 164]

 حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ خَالِدِ بْنِ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ خَيْرٍ قَالَ أَتَانَا عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَقَدْ صَلَّى فَدَعَا بِطَهُورٍ فَقُلْنَا مَا يَصْنَعُ بِالطَّهُورِ وَقَدْ صَلَّى مَا يُرِيدُ إِلَّا لِيُعَلِّمَنَا فَأُتِيَ بِإِنَاءٍ فِيهِ مَاءٌ وَطَسْتٍ فَأَفْرَغَ مِنْ الْإِنَاءِ عَلَى يَمِينِهِ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثَلَاثًا ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلَاثًا فَمَضْمَضَ وَنَثَرَ مِنْ الْكَفِّ الَّذِي يَأْخُذُ فِيهِ…ثُمَّ قَالَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَعْلَمَ وُضُوءَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ هَذَا

 Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awaanah, dari Khaalid bin ‘Alqamah, dari ‘Abd Khair, ia berkata, ‘Aliy radhiyallahu ‘anhu mendatangi kami dan sungguh ia telah selesai menunaikan shalat, lalu ia meminta air untuk bersuci, kami berkata, “Apa yang hendak ia lakukan dengan bersuci ketika selesai shalat? Tidaklah ia berkehendak demikian kecuali ia hendak mengajari kami.” Lalu didatangkan bejana berisi air, kemudian ‘Aliy menuangkan air dari bejana tersebut pada tangan kanannya, dia membasuh kedua tangannya tiga kali, lalu berkumur dan beristinsyaq tiga kali, dia berkumur dan beristinsyaq dari telapak tangan yang dia gunakan untuk mengambil air (yakni dengan tangan kanannya)…kemudian ‘Aliy berkata, “Barangsiapa yang ia ingin mengetahui sifat wudhu’ Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam maka wudhu’nya seperti ini.” [Sunan Abu Daawud no. 111] – Shahih 

 

6. Berwudhu Sebelum Tidur Dan Tidur Dengan Posisi Miring Ke Kanan

 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ ثُمَّ قُلْ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ

 Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqaatil, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullaah, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan, dari Manshuur, dari Sa’d bin ‘Ubaidah, dari Al-Baraa’ bin ‘Aazib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila engkau hendak tidur, berwudhulah sebagaimana wudhu ketika hendak shalat. Kemudian berbaringlah miring ke kanan, dan bacalah, Ya Allah, aku tundukkan wajahku kepadaMu, aku pasrahkan urusanku kepadaMu, aku sandarkan punggungku kepadaMu, karena rasa takut dan penuh harap kepadaMu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari hukumanMu kecuali kepadaMu. Ya Allah, aku beriman kepada kitabMu yang telah Engkau turunkan, dan kepada nabiMu yang telah Engkau utus. Jika kau meninggal di malam itu, kau meninggal dalam keadaan fitrah. Jadikanlah doa itu, sebagai kalimat terakhir yang engkau ucapkan sebelum tidur.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 247; Shahiih Muslim no. 2712] 

 

 7. Berbuka Puasa Dengan Makanan Ringan حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaimaan, telah menceritakan kepada kami Tsaabit Al-Bunaaniy bahwa ia mendengar Anas bin Maalik radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Dahulu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam berbuka puasa dengan beberapa butir kurma muda (ruthb atau kurma basah) sebelum melakukan shalat (Maghrib). Jika beliau tidak menemukan beberapa kurma muda maka beliau berbuka dengan beberapa butir kurma matang (tamr atau kurma kering). Jika beliau tidak menemukannya, maka beliau berbuka dengan beberapa teguk air.” [Sunan Abu Daawud no. 2356] – Hasan.

 Lihat Ash-Shahiihah no. 2840. 

 

8. Sujud Syukur Saat Mendapatkan Nikmat Atau Terhindar Dari Bencana

 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ حَدَّثَنَا بَكَّارُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ أَمْرٌ فَسُرَّ بِهِ فَخَرَّ لِلَّهِ سَاجِدًا

 Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim, telah menceritakan kepada kami Bakkaar bin ‘Abdul ‘Aziiz bin Abu Bakrah, dari Ayahnya, dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah kedatangan suatu perkara yang menyenangkan beliau, maka beliau pun turun dan sujud kepada Allah. [Jaami' At-Tirmidziy no. 1578; Sunan Abu Daawud no. 2774] – Hasan. Al-Imam At-Tirmidziy rahimahullah berkata, “Hasan ghariib,” dan dihasankan Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahiih At-Tirmidziy. 

 

9. Tidak Begadang Dan Segera Tidur Selesai Shalat Isya

 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ، عَنْ أَبِي الْمِنْهَالِ، عَنْ أَبِي بَرْزَةَ، ” أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

 “ Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sallaam, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdul Wahhaab Ats-Tsaqafiy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Khaalid Al-Hadzdzaa’, dari Abul Minhaal, dari Abu Barzah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isyaa’ dan bercakap-cakap setelahnya. [Shahiih Al-Bukhaariy no. 568; Shahiih Ibnu Khuzaimah no. 346] Oleh karena itu dimakruhkan tidur sebelum shalat ‘Isya’ dan begadang setelahnya jika memang tidak ada keperluan. Al-Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah sampai membuat judul untuk bab ini : بَابُ الزَّجْرِ عَنِ السَّهَرِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ “Bab larangan dari begadang setelah shalat ‘Isya'” 

 

10. Mengikuti Bacaan Muadzin

 حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

 Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Yuusuf, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Maalik, dari Ibnu Syihaab, dari ‘Athaa’ bin Yaziid Al-Laitsiy, dari Abu Sa’iid Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika kalian mendengar seruan adzan, maka katakanlah seperti apa yang diserukan mu’adzin.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 611; Shahiih Muslim no. 386]

 حَدَّثَنِي إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ أَخْبَرَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ جَهْضَمٍ الثَّقَفِيُّ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ غَزِيَّةَ عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسَافٍ عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ فَقَالَ أَحَدُكُمْ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ثُمَّ قَالَ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

 Telah menceritakan kepadaku Ishaaq bin Manshuur, telah mengkhabarkan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Jahdham Ats-Tsaqafiy, telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Ja’far, dari ‘Umarah bin Ghaziyyah, dari Khubaib bin ‘Abdurrahman bin Isaaf, dari Hafsh bin ‘Aashim bin ‘Umar bin Al-Khaththaab dari Ayahnya dari Kakeknya, yaitu ‘Umar bin Al-Khaththaab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika seorang mu’adzin mengumandangkan adzan seraya berseru, ‘Allah Mahabesar, Allah Mahabesar’, lalu salah seorang di antara kalian mengucap, ‘Allah Mahabesar, Allah Mahabesar’, kemudian mu’adzin berseru, ‘Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, lalu dia berucap, ‘Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, kemudian mu’adzin melanjutkan, ‘Saya bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah’, lalu dia mengucap, ‘Saya bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah’, kemudian mu’adzin berseru, ‘Marilah shalat’, dan dia membaca, ‘Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan (pertolongan) Allah’, kemudian mu’adzin berseru, ‘Marilah menuju kebahagiaan, ‘ lalu dia menjawab, ‘Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan (pertolongan) Allah’, kemudian mu’adzin berkata, ‘Allah Mahabesar, Allah Mahabesar’, lalu dia menjawab, ‘Allah Mahabesar, Allah Mahabesar’, kemudian (menutup adzannya) dengan lafadz, ‘Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah’, lalu dia menjawab dengan lafadz, ‘Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selian Allah’. (Jika dia melakukan hal itu) Dengan sepenuh hati, niscaya dia akan masuk surga.” [Shahiih Muslim no. 388; Shahiih Al-Bukhaariy no. 613] 

 

11. Berlomba-Lomba Untuk Mengumandangkan Adzan, Bersegera Menuju Shalat, Serta Berupaya Untuk Mendapatkan Shaf Pertama

 حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ سُمَيٍّ مَوْلَى أَبِي بَكْرِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ…لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا لَاسْتَهَمُوا عَلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

 Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, dari Maalik, dari Sumaiy maulaa Abu Bakr bin ‘Abdurrahman, dari Abu Shaalih As-Sammaan, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “…Kalaulah manusia mengetahui apa yang terdapat pada adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak mampu mendapatinya kecuali dengan cara mengundi maka mereka pasti akan mengundinya, dan kalaulah mereka mengetahui apa yang terdapat pada bersegera menuju shalat maka mereka pasti akan berlomba-lomba kepadanya, dan kalaulah mereka mengetahui apa yang terdapat pada ‘atamah (shalat ‘Isya’) dan shalat Subuh maka mereka pasti akan mendatanginya walau dengan cara merangkak.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 654; Shahiih Muslim no. 440] 

 

 12. Meminta Izin Tiga Kali Ketika Bertamu

 حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ عَنْ بُكَيْرِ بْنِ الْأَشَجِّ أَنَّ بُسْرَ بْنَ سَعِيدٍ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ يَقُولُا كُنَّا فِي مَجْلِسٍ عِنْدَ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ فَأَتَى أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ مُغْضَبًا حَتَّى وَقَفَ فَقَالَ أَنْشُدُكُمْ اللَّهَ هَلْ سَمِعَ أَحَدٌ مِنْكُمْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الِاسْتِئْذَانُ ثَلَاثٌ فَإِنْ أُذِنَ لَكَ وَإِلَّا فَارْجِعْ قَالَ أُبَيٌّ وَمَا ذَاكَ قَالَ اسْتَأْذَنْتُ عَلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَمْسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي فَرَجَعْتُ ثُمَّ جِئْتُهُ الْيَوْمَ فَدَخَلْتُ عَلَيْهِ فَأَخْبَرْتُهُ أَنِّي جِئْتُ أَمْسِ فَسَلَّمْتُ ثَلَاثًا ثُمَّ انْصَرَفْتُ قَالَ قَدْ سَمِعْنَاكَ وَنَحْنُ حِينَئِذٍ عَلَى شُغْلٍ فَلَوْ مَا اسْتَأْذَنْتَ حَتَّى يُؤْذَنَ لَكَ قَالَ اسْتَأْذَنْتُ كَمَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَوَاللَّهِ لَأُوجِعَنَّ ظَهْرَكَ وَبَطْنَكَ أَوْ لَتَأْتِيَنَّ بِمَنْ يَشْهَدُ لَكَ عَلَى هَذَا فَقَالَ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ فَوَاللَّهِ لَا يَقُومُ مَعَكَ إِلَّا أَحْدَثُنَا سِنًّا قُمْ يَا أَبَا سَعِيدٍ فَقُمْتُ حَتَّى أَتَيْتُ عُمَرَ فَقُلْتُ قَدْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ هَذَا

 Telah menceritakan kepadaku Abu Ath-Thaahir, telah mengkhabarkan kepadaku ‘Abdullaah bin Wahb, telah menceritakan kepadaku ‘Amr bin Al-Haarits, dari Bukair bin Al-Asyaj, bahwa Busr bin Sa’iid menceritakan kepadanya bahwa ia mendengar Abu Sa’iid Al-Khudriy mengatakan, “Kami sedang berada di majelis Ubay bin Ka’b, lalu datanglah Abu Muusaa Al-Asy’ariy dalam keadaan marah, lalu ia berhenti seraya berkata, “Demi Allah, apakah di antara kalian ada yang pernah mendengar sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi, “Meminta izin itu hanya tiga kali, apabila diizinkan, maka kalian boleh masuk. Jika setelah tiga kali tidak ada jawaban, maka pulanglah.” Ubay bertanya, “Ada apa dengan hadits tersebut?” Abu Muusaa menjawab, “Kemarin aku telah meminta izin kepada ‘Umar (di rumahnya) sebanyak tiga kali namun tidak ada jawaban, maka akupun pulang kembali. Lalu pada hari ini aku mendatanginya lagi dan aku khabarkan kepadanya bahwa aku telah menemuinya kemarin dan aku telah ucapkan salam sebanyak tiga kali, namun tidak ada jawaban akhirnya aku pulang kembali. Maka ‘Umar menjawab, “Kami telah mendengarmu, akan tetapi waktu itu kami memang sedang sibuk hingga tidak sempat mengizinkanmu, tetapi kenapa kamu tidak menungguku sampai aku mengizinkanmu?” Abu Muusaa menjawab, “Aku meminta izin sebagaimana yang telah aku dengar dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.” Lalu ‘Umar berkata, “Demi Allah, aku akan menghukummu hingga kamu mendatangkan saksi ke hadapanku mengenai hadits itu.” Kemudian Ubay bin Ka’b berkata, “Demi Allah, tidak akan ada yang menjadi saksi atasmu kecuali orang yang paling muda di antara kami. Berdirilah wahai Abu Sa’iid!” Lalu akupun berdiri hingga aku menemui ‘Umar, dan aku katakan kepadanya bahwa aku telah mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda seperti itu.” [Shahiih Muslim no. 2154] 

 

13. Mengibaskan Seprei Saat Hendak Tidur

 حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَنْفُضْ فِرَاشَهُ بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي مَا خَلَفَهُ عَلَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ

 Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yuunus, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullaah bin ‘Umar, telah menceritakan kepadaku Sa’iid bin Abu Sa’iid Al-Maqburiy, dari Ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian hendak tidur di pembaringannya, maka hendaklah ia mengibaskan kasurnya dengan kainnya karena sesungguhnya ia tidak tahu apa yang berada di atasnya sepeninggalnya, kemudian ucapkan, bismika Rabbi wadha’tu janbiy wa bika arfa’uhu in amsakta nafsiy farhamhaa wa in arsaltahaa fahfazhhaa bimaa tahfazha bihi ‘ibaadakash shaalihiin (Dengan namaMu Wahai Tuhan, aku baringkan punggungku dan dengan namaMu aku mengangkatnya, dan jika Engkau menahan diriku maka rahmatilah aku, dan jika Engkau melepaskannya, maka jagalah sebagaimana Engkau menjaga hamba-hambaMu yang shalih).” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 6320; Shahiih Muslim no. 2716] 

 

14. Meruqyah Diri Dan Keluarga Disunnahkan untuk meruqyah diri sendiri sebagaimana diceritakan oleh Tsaabit Al-Bunaaniy rahimahullah dari Anas bin Maalik radhiyallahu ‘anhu dalam riwayat Al-Imam At-Tirmidziy :

 حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ عَبْدِ الصَّمَدِ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَالِمٍ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ قَالَ قَالَ لِي يَا مُحَمَّدُ إِذَا اشْتَكَيْتَ فَضَعْ يَدَكَ حَيْثُ تَشْتَكِي وَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ مِنْ وَجَعِي هَذَا ثُمَّ ارْفَعْ يَدَكَ ثُمَّ أَعِدْ ذَلِكَ وِتْرًا فَإِنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ حَدَّثَنِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَهُ بِذَلِكَ

 Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Waarits bin ‘Abdish Shamad, telah menceritakan kepadaku Ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Saalim, telah menceritakan kepada kami Tsaabit Al-Bunaaniy, ia berkata, “Wahai Muhammad, jika kau merasakan sakit maka taruhlah tanganmu di bagian tubuh yang terasa sakit, dan ucapkan, bismillaahi a’uudzu bi’izzatillaahi wa qudratihi min syarri maa ajidu min waja’iy hadzaa (Dengan nama Allah, aku berlindung dengan kemuliaan Allah dan kekuasaanNya dari sakit yang aku derita ini), kemudian angkat kedua tanganmu lalu ulangi lagi seperti itu (menempelkannya pada bagian yang sakit) sebanyak bilangan ganjil karena sesungguhnya Anas bin Maalik telah menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menceritakan kepadanya seperti itu.” [Jaami' At-Tirmidziy no. 3588] – At-Tirmidziy berkata, “Hasan gharib.” Dan dishahihkan Syaikh Al-Albaaniy dalam Shahiih At-Tirmidziy dan Ash-Shahiihah no. 1258. Hadits ini mempunyai syaahid dari ‘Utsmaan bin Abul ‘Aash radhiyallahu ‘anhu, diriwayatkan Al-Imam Ibnu Maajah :

 حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ خُصَيْفَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كَعْبٍ عَنْ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ الثَّقَفِيِّ أَنَّهُ قَالَ قَدِمْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِي وَجَعٌ قَدْ كَادَ يُبْطِلُنِي فَقَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْعَلْ يَدَكَ الْيُمْنَى عَلَيْهِ وَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ سَبْعَ مَرَّاتٍ فَقُلْتُ ذَلِكَ فَشَفَانِيَ اللَّهُ

 Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr, telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Abu Bukair, telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Muhammad, dari Yaziid bin Khushaifah, dari ‘Amr bin ‘Abdillaah bin Ka’b, dari Naafi’ bin Jubair, dari ‘Utsmaan bin Abul ‘Aash Ats-Tsaqafiy, bahwa ia berkata, “Aku mendatangi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan aku sedang menderita penyakit yang sangat mengganggu, maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku, “Letakkan tanganmu yang kanan diatasnya (yaitu diatas bagian tubuh yang sakit) lalu ucapkan, bismillahi a’uudza bi’izzatillaahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru, sebanyak tujuh kali.” Maka aku mengucapkan seperti itu dan Allah pun menyembuhkanku.” [Sunan Ibnu Maajah no. 3522] – Shahih, para perawinya adalah para perawi Ash-Shahiihain kecuali ‘Amr bin ‘Abdillaah, Al-Haafizh berkata ia tsiqah.

 Dan disunnahkan pula meruqyah keluarganya, juga orang lain yang membutuhkan sebagaimana malaikat Jibriil ‘Alaihissalaam pernah meruqyah Rasulullah. حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عُمَرَ الْمَكِّيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ الدَّرَاوَرْدِيُّ عَنْ يَزِيدَ وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُسَامَةَ بْنِ الْهَادِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ إِذَا اشْتَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَقَاهُ جِبْرِيلُ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ يُبْرِيكَ وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيكَ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ وَشَرِّ كُلِّ ذِي عَيْنٍ Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu ‘Umar Al-Makkiy, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziiz Ad-Daraawardiy, dari Yaziid -dan dia adalah Ibnu ‘Abdillaah bin Usaamah bin Al-Haad-, dari Muhammad bin Ibraahiim, dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, dari ‘Aaisyah istri Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam -radhiyallahu ‘anha-, bahwa ia berkata, “Dahulu jika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam sedang sakit maka Jibriil datang meruqyah beliau, Jibriil mengucapkan, bismillaahi yubriika wa min kulli daa’in yasyfiika wa min syarri haasidin idzaa hasada wa syarri kulli dzii ‘ainin (Dengan nama Allah yang menciptakanmu, Dialah Allah yang menyembuhkanmu dari segala macam penyakit dan dari kejahatan pendengki ketika ia mendengki serta segala macam kejahatan sorotan mata jahat semua makhluk yang memandang dengan kedengkian).” [Shahiih Muslim no. 2188; Musnad Ahmad no. 24743] 

 

15. Berdoa Saat Memakai Pakaian Baru

 حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ، أَخْبَرَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، عَنِ الْجُرَيْرِيِّ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: ” كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا اسْتَجَدَّ ثَوْبًا سَمَّاهُ بِاسْمِهِ إِمَّا قَمِيصًا أَوْ عِمَامَةً ثُمَّ يَقُولُ: ” اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيهِ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ

 “ Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin ‘Aun, telah mengkhabarkan kepada kami Ibnul Mubaarak, dari Al-Jurairiy, dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa’iid Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Dahulu jika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam memakai baju baru, beliau memulai dengan menyebutkan nama baju tersebut, baik itu baju kemeja atau imamah, kemudian beliau membaca, Allaahumma lakal hamdu anta kasautaniihi as’aluka min khairihi wa khairi maa shuni’a lahu wa a’uudzubika min syarrihi wa syarri maa shuni’a lahu (Ya Allah, hanya bagiMu segala puji, Engkaulah yang memberikan pakaian ini kepadaku, aku memohon kepadaMu untuk memperoleh kebaikannya dan kebaikan yang terbuat karenanya, aku berlindung kepadaMu dari kejahatannya dan kejahatan yang terbuat karenanya).” [Sunan Abu Daawud no. 4020; Jaami' At-Tirmidziy no. 1767] – Al-Haafizh dalam Nataa’ijul Ifkaar 1/124 menghasankan sanadnya. 

 

 16. Mengucapkan Salam Kepada Semua Orang Islam Termasuk Anak Kecil

 حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ عَنْ أَبِي الْخَيْرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

 Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Khaalid, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari Yaziid, dari Abul Khair, dari ‘Abdullaah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, “Islam yang seperti apakah yang paling baik?” Nabi bersabda, “Kau memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang kau kenal dan kepada yang tidak kau kenal.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 12; Shahiih Muslim no. 42] 

 

17. Berwudhu Sebelum Mandi Besar (Mandi Junub) Disunnahkan untuk berwudhu’ sebelum mengguyurkan air ke seluruh badan ketika mandi junub, dan ini masuk dalam sunnah-sunnahnya mandi junub.

 حَدَّثَنَا عَبْدَانُ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ كُرَيْبٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ مَيْمُونَةَ قَالَتْ سَتَرْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَغْتَسِلُ مِنْ الْجَنَابَةِ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثُمَّ صَبَّ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَغَسَلَ فَرْجَهُ وَمَا أَصَابَهُ ثُمَّ مَسَحَ بِيَدِهِ عَلَى الْحَائِطِ أَوْ الْأَرْضِ ثُمَّ تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ غَيْرَ رِجْلَيْهِ ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى جَسَدِهِ الْمَاءَ ثُمَّ تَنَحَّى فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ

 Telah menceritakan kepada kami ‘Abdaan, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullaah, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan, dari Al-A’masy, dari Saalim bin Abul Ja’d, dari Kuraib, dari Ibnu ‘Abbaas, dari Maimuunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku menutupi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam ketika beliau sedang mandi junub, maka ia mencuci kedua tangannya kemudian menuangkan dengan tangan kanannya ke tangan kirinya, beliau mencuci kemaluan dan sekitarnya, kemudian menggosok kedua tangannya pada dinding atau permukaan tanah, kemudian beliau berwudhu’ seperti wudhu’ untuk shalat selain kakinya, lalu beliau mengguyurkan air pada seluruh badannya, beliau mengakhirinya dengan mencuci kakinya (untuk menyempurnakan wudhu’nya).” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 281] 

 

 18. Membaca ‘Amin’ Dengan Suara Keras Saat Menjadi Makmum Disyari’atkan bagi makmum untuk mengucapkan “amin” karena jika ucapannya tersebut berbarengan dengan amin-nya malaikat, dosa-dosanya akan diampuni Allah, berdasarkan dalil berikut :

 حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ الزُّهْرِيُّ حَدَّثَنَاهُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَمَّنَ الْقَارِئُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تُؤَمِّنُ فَمَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

 Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin ‘Abdillaah, telah menceritakan kepada kami Sufyaan, ia berkata, Az-Zuhriy telah menceritakannya kepada kami, dari Sa’iid bin Al-Musayyib, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Jika imam mengucapkan aamiin, maka kalian ucapkan aamiin karena sesungguhnya para malaikat juga mengucapkannya, maka barangsiapa ucapan aminnya bersamaan dengan para malaikat maka dosa-dosanya yang telah lampau akan diampuni.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 6402; Shahiih Muslim no. 411]

 حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ يَعْنِي ابْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَالَ الْقَارِئُ { غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ } فَقَالَ مَنْ خَلْفَهُ آمِينَ فَوَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ أَهْلِ السَّمَاءِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

 Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid, telah menceritakan kepada kami Ya’quub -yakni Ibnu ‘Abdirrahman-, dari Suhail, dari Ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika imam membaca “ghairil maghduubi ‘alaihim wa ladhdhaalliin”, lalu ma’mum di belakangnya mengucapkan aamiin dan ucapannya tersebut bersamaan dengan ucapan penduduk langit, dosanya yang telah lampau akan diampuni.” [Shahiih Muslim no. 413]

 Dan mengucapkan aamiin dengan suara keras, inilah pendapat mayoritas ulama, pensyarah Sunan Abu Daawud berkata :

 وَالْحَدِيث يَدُلّ عَلَى مَشْرُوعِيَّة التَّأْمِين لِلْمَأْمُومِ وَالْجَهْرِيَّة وَقَدْ تَرْجَمَ الْإِمَام الْبُخَارِيّ بَاب جَهْر الْمَأْمُوم بِالتَّأْمِينِ وَأَوْرَدَ فِيهِ هَذَا الْحَدِيث “Hadits ini menunjukkan masyru’nya mengucapkan aamiin bagi ma’mum dan mengucapkan dengan jahr, dan sungguh Al-Imam Al-Bukhaariy telah membuat bab “ma’mum mengucapkan aamiin dengan suara keras”, lalu beliau mengeluarkan hadits ini.” ['Aunul Ma'buud no. 782] 

 

 19. Mengeraskan Suara Saat Membaca Dzikir Setelah Shalat

 حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا عَمْرٌو قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو مَعْبَدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كُنْتُ أَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّكْبِيرِ

 Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin ‘Abdillaah, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyaan, telah menceritakan kepada kami ‘Amr, ia berkata, telah mengkhabarkan kepadaku Abu Ma’bad, dari Ibnu ‘Abbaas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku dahulu mengetahui selesainya shalat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan suara takbir mereka (yaitu suara dzikir).” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 842]

 حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ نَصْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو أَنَّ أَبَا مَعْبَدٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

 Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Nashr, ia berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq, ia berkata, telah mengkhabarkan kepada kami Ibnu Juraij, ia berkata, telah mengkhabarkan kepadaku ‘Amr, bahwa Abu Ma’bad maulaa Ibnu ‘Abbaas telah mengkhabarkan kepadanya, bahwa Ibnu ‘Abbaas radhiyallahu ‘anhuma telah mengkhabarkan kepadanya, bahwasanya mengeraskan suara dzikir ketika manusia selesai menunaikan shalat fardhu terjadi di zaman Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Ibnu ‘Abbaas berkata, “Aku dahulu mengetahui mereka telah selesai shalat jika aku mendengar suara dzikir mereka.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 841; Shahiih Muslim no. 586] Al-Haafizh rahimahullah berkata bahwa hadits diatas adalah dalil dibolehkannya berdzikir dengan suara keras setelah selesai shalat [Fathul Baariy 2/324-326][1] 

 

20. Membuat Pembatas Saat Sedang Shalat Fardhu Atau Shalat Sunnah Pembatas ini dinamakan sutrah. Sutrah adalah sesuatu yang dianjurkan bahkan beberapa ulama menilainya wajib.

 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ، حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ، عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا

 Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-‘Alaa’, telah menceritakan kepada kami Abu Khaalid, dari Ibnu ‘Ajlaan, dari Zaid bin Aslam, dari ‘Abdurrahman bin Abu Sa’iid Al-Khudriy, dari Ayahnya, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian shalat maka shalatlah dengan menghadap sutrah dan mendekatlah kepadanya.” [Sunan Abu Daawud no. 697] – Hasan.

 Para perawinya adalah para perawi Ash-Shahiihain.

 حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُتْرَةُ الرَّجُلِ فِي الصَّلَاةِ السَّهْمُ وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ بِسَهْمٍ

 Telah menceritakan kepada kami Ya’quub bin Ibraahiim, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Malik bin Ar-Rabii’ bin Sabrah, dari Ayahnya, dari Kakeknya radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sutrah seorang laki-laki dalam shalatnya adalah anak panah, jika salah seorang dari kalian shalat maka batasilah dengan anak panah.” [Musnad Ahmad no. 14801] – Abul Hasan Al-Haitsamiy dalam Majma’ Az-Zawaa’id 2/61 berkata bahwa para perawinya adalah para perawi Ash-Shahiih.

 ثنا بُنْدَارٌ، ثنا أَبُو بَكْرٍ يَعْنِي الْحَنَفِيَّ، ثنا الضَّحَّاكُ بْنُ عُثْمَانَ، حَدَّثَنِي صَدَقَةُ بْنُ يَسَارٍ، قَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ” لا تُصَلِّ إِلا إِلَى سُتْرَةٍ، وَلا تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ ؛ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ

 Telah menceritakan kepada kami Bundaar, telah menceritakan kepada kami Abu Bakr -yakni Al-Hanafiy-, telah menceritakan kepada kami Adh-Dhahhaak bin ‘Utsmaan, telah menceritakan kepadaku Shadaqah bin Yasaar, ia berkata, aku mendengar Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian shalat kecuali menghadap sutrah dan jangan biarkan seorangpun melintas di hadapanmu, jika ia melawan maka perangilah ia karena ia bersama dengan qarin (yaitu syaithan).” [Shahiih Ibnu Khuzaimah no. 775; Shahiih Ibnu Hibbaan no. 2362] – Shahih. Para perawinya adalah para perawi Ash-Shahiih. Para ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya dan butuh pembahasan yang sangat panjang sementara tidak disini tempatnya. Yang telah jelas disepakati adalah bahwa sutrah adalah sesuatu yang disyari’atkan ketika hendak shalat terutama ketika kita shalat munfarid, shalat sunnah atau ketika kita menjadi imam dalam shalat berjama’ah. Namun jika kita menjadi ma’mum maka sutrah kita adalah sutrah yang digunakan oleh imam.

 

 Demikian yang bisa kami tuliskan mengenai sunnah-sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam kehidupan sehari-hari, sungguh merupakan suatu keutamaan jika kita bisa menghidupkannya dalam kehidupan kita disaat manusia banyak melupakannya. Wa billaahit taufiiq. Wallaahu a’lam. Dikutip dari berbagai sumber. Footnotes :

 

 [1] Dari sini, maka dapat disimpulkan bahwa teknis berdzikir setelah shalat terbagi menjadi dua, yaitu dengan mengeraskan suara, dalilnya seperti disebutkan diatas. Lalu dengan melirihkan suara. Dalil untuk ini adalah firman Allah Ta’ala :

  وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ 

 Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. [QS Al-A'raaf : 205]

 Lalu sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, yang diriwayatkan dari Abu Sa’iid Al-Khudriy, beliau radhiyallahu ‘anhu berkata :

 كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّهُ مَعَكُمْ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ

 “Kami pernah berjalan bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan ketika kami menaiki bukit maka kami bertahlil dan bertakbir dengan mengeraskan suara kami, lalu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, lembutkanlah diri kalian karena sesungguhnya kalian tidaklah menyeru kepada Dzat yang tuli dan ghaib, sesungguhnya Dia bersama kalian dan Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Maha Suci namaNya dan Maha Tinggi kebesaranNya.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 2992]

 Oleh karena itulah maka dibolehkan berdzikir setelah shalat dengan mengeraskan suara. Al-Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm berkata : ورفع الصوت بالتكبير إثر كل صلاة حسن “Dan mengeraskan suara dengan takbir setelah tiap shalat adalah (amal yang) baik.” [Al-Muhallaa 4/260]

 Syaikh ‘Abdul ‘Aziiz bin Baaz ditanya mengenai dzikir dengan mengeraskan suara setelah shalat, maka jawab beliau :

 نعم ، هذا هو السنة رفع الصوت بالذكر ، أما من قال إنه بدعة فهو غلطان ، السنة أن يرفع الصوت بالذكر كما كان النبي يفعل وأصحابه ، يقول ابن عباس رضي الله عنهما : كان رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من المكتوبة على عهد النبي صلى الله عليه وسلم ، قال ابن عباس : كنت أعلم إذا انصرفوا بذلك إذا سمعته فالسنة للإمام والمأمومين إذا سلموا من الصلاة رفع الصوت رفعا متوسطا لا صراخ فيه حتى يتعلم الجاهل ويتذكر الناسي ، أما ما يفعل بعض الناس يهلل بينه وبين نفسه فلا ، هذا خلاف السنة ، السنة أن يرفع الصوت بالذكر حتى يتتابع الناس بأفعال السنة

 “Ya, berdzikir dengan mengeraskan suara adalah sunnah, adapun yang mengatakan bahwa perbuatan itu adalah bid’ah, maka ia salah. Termasuk sunnah adalah mengeraskan suara ketika berdzikir sebagaimana yang dilakukan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, Ibnu ‘Abbaas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Mengeraskan suara dzikir ketika manusia selesai menunaikan shalat fardhu terjadi di zaman Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam,” Ibnu ‘Abbaas berkata, “Aku dahulu mengetahui mereka (para sahabat) telah selesai shalat jika aku mendengar suara dzikir mereka.” Maka sunnah untuk imam dan ma’mum jika mereka telah salam dari shalat, mereka mengeraskan suara dzikir mereka dengan suara yang sedang dan tidak dengan berteriak hingga orang yang tidak mengetahui mempelajari hal ini dan mengingatkan manusia. Adapun apa yang dilakukan oleh sebagian manusia dengan bertahlil di dalam hati maka ini tidak benar, menyalahi sunnah. Yang sunnah adalah berdzikir dengan mengeraskan suara hingga manusia menjadi pengikut sunnah.” [Fatawaa Nuur 'alaa Ad-Darb 9/87]

 Adapun setelah dipahami bahwasanya dzikir dengan mengeraskan suara itu memang sah, maka para ulama pun memaknai bahwasanya dzikir dengan suara keras itu tidaklah dilakukan oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam secara terus menerus, atau dengan kata lain Nabi melakukannya sesekali saja dengan maksud untuk memberi pengajaran kepada para sahabat radhiyallahu ‘anhum, terbukti dengan lafazh yang dipakai oleh Ibnu ‘Abbaas yaitu “kuntu” (aku dahulu) yang menunjukkan perbuatan ini memang pernah terjadi namun tidaklah dirutinkan. Al-Imam An-Nawawiy berkata :

 وحمل الشافعي رحمه الله هذا الحديث على أنه جهر وقتاً يسيراً حتى يعلمهم صفة ‏الذكر، لا أنهم جهروا دائماً. قال: فأختار للإمام والمأموم أن يذكرا الله تعالى بعد الفراغ ‏من الصلاة ويخفيان ذلك، إلا أن يكون إماماً يريد أن يتعلم منه فيجهر حتى يعلم أنه قد ‏تعلم منه، ثم يُسِرُّ، وحمل الحديث على هذا

 “Dan Asy-Syaafi’iy rahimahullah membawa hadits ini kepada pengertian bahwasanya ia dikerjakan jahr sesekali dan sirr sesekali hingga beliau mengajarkan kepada mereka (yaitu para sahabat) sifat dzikir, tidaklah mereka melakukannya secara jahr terus menerus. Asy-Syaafi’iy berkata, “Aku memilih untuk imam dan ma’mum bahwa mereka berdzikir kepada Allah Ta’ala setelah menunaikan shalat dengan dipelankan, kecuali imam menginginkan untuk mengajarkan mereka maka ia menjahrkannya hingga mereka mengetahuinya, kemudian imam kembali merendahkan suaranya.” Beliau membawa hadits kepada pengertian seperti ini.” [Syarh Shahiih Muslim, via islamweb]

 Dan yang juga dapat dipahami dari hadits Ibnu ‘Abbaas tersebut adalah ia bukanlah dalil untuk berdzikir dengan dikomandoi satu suara secara berjama’ah, atau lazim kita kenal dengan dzikir berjama’ah. Namun yang dimaksud dan dimaknai oleh hadits adalah berdzikir dengan suara keras dan dilakukan dengan sendiri-sendiri. Wallaahu a’lam. *****

MENDAHULUKAN

 

Syari’at Islam telah menganjurkan pemeluknya untuk saling berkasih sayang, karena agama ini adalah agama kasih sayang. Allah Ta’ala berfirman dalam kitabNya yang mulia :

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. [QS Al-Fath : 29]

Diantara cabang-cabang prinsip saling berkasih sayang adalah mencintai dan menghormati kepada orang yang lebih tua dari kita. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menjamin surga bagi umatnya yang menghormati orang yang lebih tua.

Al-Imaam Al-Baihaqiy dalam kitabnya, Syu’ab Al-Imaan meriwayatkan sebuah hadits :

أَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ الأَصْبَهَانِيُّ ، نَا أَبُو سَعِيدِ ابْنُ الأَعْرَابِيِّ ، نَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ ، نَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ ، نَا مَطَرٌ الأَعْنَقُ ، عَنْ ثَابِتٍ ، عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَنَسُ ، ” وَقِّرِ الْكَبِيرَ وَارْحَمِ الصَّغِيرَ تُرَافِقْنِي فِي الْجَنَّةِ “

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdullaah bin Yuusuf Al-Ashbahaaniy, telah mengkhabarkan kepada kami Abu Sa’iid Ibnul A’raabiy, telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Ismaa’iil, telah mengkhabarkan kepada kami Yuunus bin Muhammad, telah mengkhabarkan kepada kami Mathar Al-A’naq, dari Tsaabit, dari Anas, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai Anas, hormati yang lebih tua dan sayangi yang lebih muda, maka kau akan menemaniku di surga.”

[Syu'ab Al-Imaan no. 10979, Al-Arba'uun Ash-Shughraa no. 74; diriwayatkan pula oleh Al-Kharaa'ithiy dalam Makarim Al-Akhlaaq no. 352 dengan sanad yang dha'iif] – sanad Al-Baihaqiy hasan.

Orang yang lebih tua adalah keberkahan untuk umat ini karena mereka telah banyak pengalaman, lebih khusyuk dalam beribadah, mendalam ilmunya dan lebih matang dalam berpikir dan menimbang sesuatu serta tidak terburu-buru dalam memutuskan sesuatu. Berbeda dengan para pemuda yang cenderung lebih emosional, terburu-buru dan masih kurang pengalaman.

حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ حَمْزَةُ بْنُ الْعَبَّاسِ الْعَقَبِيُّ بِبَغْدَادَ ، ثنا عَبْدُ الْكَرِيمِ بْنُ هُشَيْمٍ ، ثنا نُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ ، وَأَخْبَرَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ الْمَحْبُوبِيُّ بِمَرْوَ ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ سَيَّارٍ ، ثنا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ ، قَالا : ثنا عَبْدُ اللهِ بْنُ الْمُبَارَكِ ، أَنْبَأَ خَالِدُ بْنُ مِهْرَانَ الْحَذَّاءُ ، عَنْ عِكْرِمَةَ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ “

Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Hamzah bin Al-‘Abbaas Al-‘Aqabiy -di Baghdaad-, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Kariim bin Husyaim, telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammaad dan telah mengkhabarkan kepada kami Abul ‘Abbaas Muhammad bin Ahmad Al-Mahbuubiy -di Marw-, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sayyaar, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Waarits bin ‘Ubaidillaah, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Al-Mubaarak, telah memberitakan Khaalid bin Mihraan Al-Hadzdzaa’, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Keberkahan ada pada orang-orang tua dari kalian.”

[Mustadrak Al-Haakim 1/62, Shahiih Ibnu Hibbaan no. 559, Mu'jam Al-Ausath no. 8991] – sanadnya shahiih lighairihi.

Bukan termasuk kaum muslimin, mereka-mereka yang tidak mengenali hak orang tua dan tidak menyayangi anak kecil.

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا سُفْيَانُ ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي نٌجَيْح ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرٍ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ ، يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا ، وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرِنَا ، فَلَيْسَ مِنَّا “

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyaan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Najiih, dari ‘Ubaidillaah bin ‘Aamir, dari ‘Abdullaah bin ‘Amr bin Al-‘Aash, ia menyampaikan sesuatu pada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Barangsiapa tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak mengenali hak orang tua kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.”

[Al-'Adabul Mufrad no. 354, Musnad Ahmad no. 7033, Sunan Abu Daawud no. 4943, Jaami' At-Tirmidziy no. 1920] – sanadnya shahiih.

Di antara bentuk-bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua adalah :

1. Mendahulukan dalam pemberian.

حَدَّثَنَا يَعْمَرُ بْنُ بِشْرٍ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ مُبَارَكٍ ، قَالَ : قَالَ أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ , حَدَّثَنِي نَافِعٌ ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ ، قَالَ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَسْتَنُّ ، فَأَعْطَى أَكْبَرَ الْقَوْمِ ، وَقَالَ : إِنَّ جِبْرِيلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنِي أَنْ أُكَبِّرَ

Telah menceritakan kepada kami Ya’mar bin Bisyr, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah -yakni Ibnul Mubaarak-, ia berkata, Usaamah bin Zaid berkata kepadaku, telah menceritakan kepadaku Naafi’, bahwa Ibnu ‘Umar berkata, aku melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam sedang memakai siwak lalu beliau memberikannya pada orang yang lebih tua dari suatu kaum, dan beliau bersabda, “Sesungguhnya Jibril Shallallahu alaihi wasallam memerintahkanku untuk mendahulukan yang lebih tua.”

[Musnad Ahmad no. 6191, Mu'jam Al-Ausath no. 3218, Sunan Al-Kubraa Al-Baihaqiy 1/40, Al-Faqiih wa Al-Mutafaqih 2/181] – sanadnya hasan.

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

أَنَّهَا حُلِبَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاةٌ دَاجِنٌ وَهِيَ فِي دَارِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ وَشِيبَ لَبَنُهَا بِمَاءٍ مِنْ الْبِئْرِ الَّتِي فِي دَارِ أَنَسٍ فَأَعْطَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَدَحَ فَشَرِبَ مِنْهُ حَتَّى إِذَا نَزَعَ الْقَدَحَ مِنْ فِيهِ وَعَلَى يَسَارِهِ أَبُو بَكْرٍ وَعَنْ يَمِينِهِ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ عُمَرُ وَخَافَ أَنْ يُعْطِيَهُ الْأَعْرَابِيَّ أَعْطِ أَبَا بَكْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ عِنْدَكَ فَأَعْطَاهُ الْأَعْرَابِيَّ الَّذِي عَلَى يَمِينِهِ ثُمَّ قَالَ الْأَيْمَنَ فَالْأَيْمَنَ

Telah menceritakan kepada kami Abul Yamaan, telah mengkhabarkan kepada kami Syu’aib, dari Az-Zuhriy, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Anas bin Maalik -radhiyallahu ‘anhu-, kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah disiapkan susu hasil perasan kambing peliharaan yang ada di rumah Anas dan susu tersebut dicampur dengan air yang ada di rumah Anas, lalu disuguhkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam segelas minuman tersebut, lalu beliau meminumnya hingga beliau sudah melepas gelas tersebut dari mulutnya, sementara di samping kiri beliau ada Abu Bakar sedangkan di sebelah kanannya ada seorang Arab badui, maka ‘Umar berkata dalam keadaan khawatir jika gelas tersebut akan diberikan kepada orang badui, “Berikanlah kepada Abu Bakar wahai Rasulullah yang ada disampingmu”. Namun beliau memberikannya kepada orang badui yang berada di samping kanan beliau itu, beliau bersabda, “Hendaknya minuman diperuntukkan untuk yang di sebelah kanan dan ke kanan dan seterusnya.”

[Shahiih Al-Bukhaariy no. 2352, Shahiih Muslim no. 2031, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 24555]

Didalam hadits diatas juga terkandung pelajaran untuk mendahulukan orang yang berada di sebelah kanan dan seterusnya.

2. Mendahulukan dalam hal ilmu.

حَدَّثَنَا عَلِيُّ ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ ، قَالَ : قَالَ لِي ابْنُ أَبِي نَجِيحٍ ، عَنْ مُجَاهِدٍ ، قَالَ : صَحِبْتُ ابْنَ عُمَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ ، فَلَمْ أَسْمَعْهُ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا حَدِيثًا وَاحِدًا ، قَالَ : ” كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُتِيَ بِجُمَّارٍ ، فَقَالَ : إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً مَثَلُهَا كَمَثَلِ الْمُسْلِمِ ، فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ : هِيَ النَّخْلَةُ ، فَإِذَا أَنَا أَصْغَرُ الْقَوْمِ فَسَكَتُّ ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هِيَ النَّخْلَةُ “

Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy, telah menceritakan kepada kami Sufyaan, ia berkata, telah berkata kepadaku Ibnu Abi Najiih, dari Mujaahid, ia berkata, aku pernah menemani Ibnu ‘Umar pergi ke Madiinah, namun aku tidak mendengar dia membicarakan tentang Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam kecuali satu kejadian dimana Ibnu ‘Umar berkata, kami pernah bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam lalu beliau bertemu dengan jama’ah para sahabat. Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya diantara pohon ada suatu pohon yang merupakan perumpamaan bagi seorang muslim.” Aku ingin mengatakan bahwa itu adalah pohon kurma namun karena aku yang paling muda (diantara mereka) maka aku diam. Kemudian Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Yang dimaksud adalah pohon kurma.”

[Shahiih Al-Bukhaariy no. 72, Shahiih Muslim no. 2812, Musnad Ahmad no. 6432].

Didalam hadits ini terkandung pelajaran untuk tidak mendahului orang-orang yang lebih tua yang mana keilmuan dan keutamaan mereka memang lebih utama kecuali jika memang yang lebih muda diketahui lebih fasih dalam menyampaikan dan lebih berilmu dibanding yang lebih tua.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ

أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَهُمْ عَنْ قَوْلِهِ تَعَالَى إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ قَالُوا فَتْحُ الْمَدَائِنِ وَالْقُصُورِ قَالَ مَا تَقُولُ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ قَالَ أَجَلٌ أَوْ مَثَلٌ ضُرِبَ لِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُعِيَتْ لَهُ نَفْسُهُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari Habiib bin Abi Tsaabit, dari Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas, bahwa ‘Umar -radhiyallahu ‘anhu- pernah menanyakan kepada mereka (para pembesar sahabat Badr) mengenai firman Allah Ta’ala “idzaa jaa’a nashrullahi wal fath” [QS An-Nashr : 1]. Mereka menjawab, “Yaitu penaklukkan kota-kota dan istana-istana.” ‘Umar berkata, “Bagaimana menurutmu wahai Ibnu ‘Abbaas?” Ibnu ‘Abbaas menjawab, “Yang dimaksud adalah ajal atau perumpamaan untuk Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwa ajal beliau telah dekat.”

[Shahiih Al-Bukhaariy no. 4969, Musnad Ahmad no. 3117]

3. Memuliakan pemuka suatu kaum yang sudah tua.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ أَنْبَأَنَا سَعِيدُ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَاكُمْ كَرِيمُ قَوْمٍ فَأَكْرِمُوهُ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash-Shabbaah, telah memberitakan kepada kami Sa’iid bin Maslamah, dari Ibnu ‘Ajlaan, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila pemuka suatu kaum datang kepada kalian, maka muliakanlah ia.” [Sunan Ibnu Maajah no. 3712, hadits hasan lighairihi dengan keseluruhan jalannya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 1205].

4. Mendahulukannya untuk menjadi imam shalat jika imam rutin berhalangan hadir serta tidak diketahui siapa yang lebih banyak hapalan Al-Qur’annya, pengetahuannya tentang Sunnah serta kapan hijrahnya.

Hal ini berdasarkan sebuah hadits :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ كِلَاهُمَا عَنْ أَبِي خَالِدٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ رَجَاءٍ عَنْ أَوْسِ بْنِ ضَمْعَجٍ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Abu Sa’iid Al-Asyaj, keduanya menyampaikan dari Abu Khaalid. Abu Bakr berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Khaalid Al-Ahmar, dari Al-A’masy, dari Ismaa’iil bin Rajaa’, dari Aus bin Dham’aj, dari Abu Mas’uud Al-Anshaariy, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Yang paling berhak menjadi imam atas suatu kaum adalah yang paling menguasai bacaan Kitabullah (Al-Qur’an), jika dalam penguasaan bacaan sama maka yang paling tahu terhadap Sunnah, jika dalam penguasaan Sunnah sama maka yang paling dahulu hijrah, jika dalam hijrah sama maka dahulukan yang pertama-tama masuk Islam (yang paling tua), dan janganlah orang lain mengimami seseorang di daerah kekuasaannya, dan jangan duduk di rumah seseorang di ruang tamunya, kecuali telah mendapatkan izin darinya.”

[Shahiih Muslim no. 674 dan Sunan Arba'ah, Musnad Ahmad no. 16643].

Demikianlah, syari’at yang mulia ini telah mengatur penghormatan kepada umat muslim yang sudah tua. Senantiasa ditekankan kepada yang lebih muda untuk memuliakan mereka, berlemah lembut kepada mereka terutama dalam memberitahukan masalah diin (agama) dan tidak mendahului suara mereka bila mereka melakukan penentangan. Yang demikian adalah termasuk adab yang baik yang mana telah dicontohkan oleh para salafus shalih. Maka Allah dan RasulNya telah menjamin surga untuk kita.

Syaikh Saliim bin ‘Iid Al-Hilaaliy hafizhahullah berkata, “Masyarakat Muslim merupakan satu bangunan ideal yang saling menguatkan antar komponennya, yang kecil (muda) memperoleh kasih-sayang, sementara yang dewasa mendapatkan penghormatan”. [Bahjatun Naazhiriin 1/426].

Semoga yang singkat ini bermanfaat bagi kita dan pribadi saya. untuk menghormati yg lebih tua dan mendahulukan yg lebih baik.

begitu juga sebaliknya yg lebih tua semoga slalu menebarkan rasa kasih sayangnya.smoga bukan sifat yang membanggakan diri.

Wallaahu a’lamu bisshawab.

Maraji’ :

Mukhtashar Syu’ab Al-Imaan li Al-Imaam Al-Baihaqiy, karya Al-Imaam Abu Al-Ma’aliy ‘Umar bin ‘Abdurrahman Al-Qazwiniy, tahqiq dan takhrij Syaikh ‘Abdul Qaadir Al-Arnaa’uth

-dengan penambahan seperlunya-