Senin, 29 September 2014
MENDAHULUKAN
Syari’at Islam telah menganjurkan pemeluknya untuk saling berkasih sayang, karena agama ini adalah agama kasih sayang. Allah Ta’ala berfirman dalam kitabNya yang mulia :
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. [QS Al-Fath : 29]
Diantara cabang-cabang prinsip saling berkasih sayang adalah mencintai dan menghormati kepada orang yang lebih tua dari kita. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menjamin surga bagi umatnya yang menghormati orang yang lebih tua.
Al-Imaam Al-Baihaqiy dalam kitabnya, Syu’ab Al-Imaan meriwayatkan sebuah hadits :
أَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ الأَصْبَهَانِيُّ ، نَا أَبُو سَعِيدِ ابْنُ الأَعْرَابِيِّ ، نَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ ، نَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ ، نَا مَطَرٌ الأَعْنَقُ ، عَنْ ثَابِتٍ ، عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَنَسُ ، ” وَقِّرِ الْكَبِيرَ وَارْحَمِ الصَّغِيرَ تُرَافِقْنِي فِي الْجَنَّةِ “
Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdullaah bin Yuusuf Al-Ashbahaaniy, telah mengkhabarkan kepada kami Abu Sa’iid Ibnul A’raabiy, telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Ismaa’iil, telah mengkhabarkan kepada kami Yuunus bin Muhammad, telah mengkhabarkan kepada kami Mathar Al-A’naq, dari Tsaabit, dari Anas, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai Anas, hormati yang lebih tua dan sayangi yang lebih muda, maka kau akan menemaniku di surga.”
[Syu'ab Al-Imaan no. 10979, Al-Arba'uun Ash-Shughraa no. 74; diriwayatkan pula oleh Al-Kharaa'ithiy dalam Makarim Al-Akhlaaq no. 352 dengan sanad yang dha'iif] – sanad Al-Baihaqiy hasan.
Orang yang lebih tua adalah keberkahan untuk umat ini karena mereka telah banyak pengalaman, lebih khusyuk dalam beribadah, mendalam ilmunya dan lebih matang dalam berpikir dan menimbang sesuatu serta tidak terburu-buru dalam memutuskan sesuatu. Berbeda dengan para pemuda yang cenderung lebih emosional, terburu-buru dan masih kurang pengalaman.
حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ حَمْزَةُ بْنُ الْعَبَّاسِ الْعَقَبِيُّ بِبَغْدَادَ ، ثنا عَبْدُ الْكَرِيمِ بْنُ هُشَيْمٍ ، ثنا نُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ ، وَأَخْبَرَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ الْمَحْبُوبِيُّ بِمَرْوَ ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ سَيَّارٍ ، ثنا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ ، قَالا : ثنا عَبْدُ اللهِ بْنُ الْمُبَارَكِ ، أَنْبَأَ خَالِدُ بْنُ مِهْرَانَ الْحَذَّاءُ ، عَنْ عِكْرِمَةَ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ “
Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Hamzah bin Al-‘Abbaas Al-‘Aqabiy -di Baghdaad-, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Kariim bin Husyaim, telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammaad dan telah mengkhabarkan kepada kami Abul ‘Abbaas Muhammad bin Ahmad Al-Mahbuubiy -di Marw-, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sayyaar, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Waarits bin ‘Ubaidillaah, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Al-Mubaarak, telah memberitakan Khaalid bin Mihraan Al-Hadzdzaa’, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Keberkahan ada pada orang-orang tua dari kalian.”
[Mustadrak Al-Haakim 1/62, Shahiih Ibnu Hibbaan no. 559, Mu'jam Al-Ausath no. 8991] – sanadnya shahiih lighairihi.
Bukan termasuk kaum muslimin, mereka-mereka yang tidak mengenali hak orang tua dan tidak menyayangi anak kecil.
حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا سُفْيَانُ ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي نٌجَيْح ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرٍ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ ، يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا ، وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرِنَا ، فَلَيْسَ مِنَّا “
Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyaan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Najiih, dari ‘Ubaidillaah bin ‘Aamir, dari ‘Abdullaah bin ‘Amr bin Al-‘Aash, ia menyampaikan sesuatu pada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Barangsiapa tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak mengenali hak orang tua kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.”
[Al-'Adabul Mufrad no. 354, Musnad Ahmad no. 7033, Sunan Abu Daawud no. 4943, Jaami' At-Tirmidziy no. 1920] – sanadnya shahiih.
Di antara bentuk-bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua adalah :
1. Mendahulukan dalam pemberian.
حَدَّثَنَا يَعْمَرُ بْنُ بِشْرٍ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ مُبَارَكٍ ، قَالَ : قَالَ أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ , حَدَّثَنِي نَافِعٌ ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ ، قَالَ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَسْتَنُّ ، فَأَعْطَى أَكْبَرَ الْقَوْمِ ، وَقَالَ : إِنَّ جِبْرِيلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنِي أَنْ أُكَبِّرَ
Telah menceritakan kepada kami Ya’mar bin Bisyr, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah -yakni Ibnul Mubaarak-, ia berkata, Usaamah bin Zaid berkata kepadaku, telah menceritakan kepadaku Naafi’, bahwa Ibnu ‘Umar berkata, aku melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam sedang memakai siwak lalu beliau memberikannya pada orang yang lebih tua dari suatu kaum, dan beliau bersabda, “Sesungguhnya Jibril Shallallahu alaihi wasallam memerintahkanku untuk mendahulukan yang lebih tua.”
[Musnad Ahmad no. 6191, Mu'jam Al-Ausath no. 3218, Sunan Al-Kubraa Al-Baihaqiy 1/40, Al-Faqiih wa Al-Mutafaqih 2/181] – sanadnya hasan.
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّهَا حُلِبَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَاةٌ دَاجِنٌ وَهِيَ فِي دَارِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ وَشِيبَ لَبَنُهَا بِمَاءٍ مِنْ الْبِئْرِ الَّتِي فِي دَارِ أَنَسٍ فَأَعْطَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَدَحَ فَشَرِبَ مِنْهُ حَتَّى إِذَا نَزَعَ الْقَدَحَ مِنْ فِيهِ وَعَلَى يَسَارِهِ أَبُو بَكْرٍ وَعَنْ يَمِينِهِ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ عُمَرُ وَخَافَ أَنْ يُعْطِيَهُ الْأَعْرَابِيَّ أَعْطِ أَبَا بَكْرٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ عِنْدَكَ فَأَعْطَاهُ الْأَعْرَابِيَّ الَّذِي عَلَى يَمِينِهِ ثُمَّ قَالَ الْأَيْمَنَ فَالْأَيْمَنَ
Telah menceritakan kepada kami Abul Yamaan, telah mengkhabarkan kepada kami Syu’aib, dari Az-Zuhriy, ia berkata, telah menceritakan kepadaku Anas bin Maalik -radhiyallahu ‘anhu-, kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah disiapkan susu hasil perasan kambing peliharaan yang ada di rumah Anas dan susu tersebut dicampur dengan air yang ada di rumah Anas, lalu disuguhkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam segelas minuman tersebut, lalu beliau meminumnya hingga beliau sudah melepas gelas tersebut dari mulutnya, sementara di samping kiri beliau ada Abu Bakar sedangkan di sebelah kanannya ada seorang Arab badui, maka ‘Umar berkata dalam keadaan khawatir jika gelas tersebut akan diberikan kepada orang badui, “Berikanlah kepada Abu Bakar wahai Rasulullah yang ada disampingmu”. Namun beliau memberikannya kepada orang badui yang berada di samping kanan beliau itu, beliau bersabda, “Hendaknya minuman diperuntukkan untuk yang di sebelah kanan dan ke kanan dan seterusnya.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 2352, Shahiih Muslim no. 2031, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 24555]
Didalam hadits diatas juga terkandung pelajaran untuk mendahulukan orang yang berada di sebelah kanan dan seterusnya.
2. Mendahulukan dalam hal ilmu.
حَدَّثَنَا عَلِيُّ ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ ، قَالَ : قَالَ لِي ابْنُ أَبِي نَجِيحٍ ، عَنْ مُجَاهِدٍ ، قَالَ : صَحِبْتُ ابْنَ عُمَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ ، فَلَمْ أَسْمَعْهُ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا حَدِيثًا وَاحِدًا ، قَالَ : ” كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُتِيَ بِجُمَّارٍ ، فَقَالَ : إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً مَثَلُهَا كَمَثَلِ الْمُسْلِمِ ، فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ : هِيَ النَّخْلَةُ ، فَإِذَا أَنَا أَصْغَرُ الْقَوْمِ فَسَكَتُّ ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هِيَ النَّخْلَةُ “
Telah menceritakan kepada kami ‘Aliy, telah menceritakan kepada kami Sufyaan, ia berkata, telah berkata kepadaku Ibnu Abi Najiih, dari Mujaahid, ia berkata, aku pernah menemani Ibnu ‘Umar pergi ke Madiinah, namun aku tidak mendengar dia membicarakan tentang Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam kecuali satu kejadian dimana Ibnu ‘Umar berkata, kami pernah bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam lalu beliau bertemu dengan jama’ah para sahabat. Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya diantara pohon ada suatu pohon yang merupakan perumpamaan bagi seorang muslim.” Aku ingin mengatakan bahwa itu adalah pohon kurma namun karena aku yang paling muda (diantara mereka) maka aku diam. Kemudian Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Yang dimaksud adalah pohon kurma.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 72, Shahiih Muslim no. 2812, Musnad Ahmad no. 6432].
Didalam hadits ini terkandung pelajaran untuk tidak mendahului orang-orang yang lebih tua yang mana keilmuan dan keutamaan mereka memang lebih utama kecuali jika memang yang lebih muda diketahui lebih fasih dalam menyampaikan dan lebih berilmu dibanding yang lebih tua.
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَهُمْ عَنْ قَوْلِهِ تَعَالَى إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ قَالُوا فَتْحُ الْمَدَائِنِ وَالْقُصُورِ قَالَ مَا تَقُولُ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ قَالَ أَجَلٌ أَوْ مَثَلٌ ضُرِبَ لِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُعِيَتْ لَهُ نَفْسُهُ
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari Habiib bin Abi Tsaabit, dari Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas, bahwa ‘Umar -radhiyallahu ‘anhu- pernah menanyakan kepada mereka (para pembesar sahabat Badr) mengenai firman Allah Ta’ala “idzaa jaa’a nashrullahi wal fath” [QS An-Nashr : 1]. Mereka menjawab, “Yaitu penaklukkan kota-kota dan istana-istana.” ‘Umar berkata, “Bagaimana menurutmu wahai Ibnu ‘Abbaas?” Ibnu ‘Abbaas menjawab, “Yang dimaksud adalah ajal atau perumpamaan untuk Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwa ajal beliau telah dekat.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 4969, Musnad Ahmad no. 3117]
3. Memuliakan pemuka suatu kaum yang sudah tua.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ أَنْبَأَنَا سَعِيدُ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَاكُمْ كَرِيمُ قَوْمٍ فَأَكْرِمُوهُ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash-Shabbaah, telah memberitakan kepada kami Sa’iid bin Maslamah, dari Ibnu ‘Ajlaan, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila pemuka suatu kaum datang kepada kalian, maka muliakanlah ia.” [Sunan Ibnu Maajah no. 3712, hadits hasan lighairihi dengan keseluruhan jalannya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 1205].
4. Mendahulukannya untuk menjadi imam shalat jika imam rutin berhalangan hadir serta tidak diketahui siapa yang lebih banyak hapalan Al-Qur’annya, pengetahuannya tentang Sunnah serta kapan hijrahnya.
Hal ini berdasarkan sebuah hadits :
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ كِلَاهُمَا عَنْ أَبِي خَالِدٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ رَجَاءٍ عَنْ أَوْسِ بْنِ ضَمْعَجٍ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Abu Sa’iid Al-Asyaj, keduanya menyampaikan dari Abu Khaalid. Abu Bakr berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Khaalid Al-Ahmar, dari Al-A’masy, dari Ismaa’iil bin Rajaa’, dari Aus bin Dham’aj, dari Abu Mas’uud Al-Anshaariy, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Yang paling berhak menjadi imam atas suatu kaum adalah yang paling menguasai bacaan Kitabullah (Al-Qur’an), jika dalam penguasaan bacaan sama maka yang paling tahu terhadap Sunnah, jika dalam penguasaan Sunnah sama maka yang paling dahulu hijrah, jika dalam hijrah sama maka dahulukan yang pertama-tama masuk Islam (yang paling tua), dan janganlah orang lain mengimami seseorang di daerah kekuasaannya, dan jangan duduk di rumah seseorang di ruang tamunya, kecuali telah mendapatkan izin darinya.”
[Shahiih Muslim no. 674 dan Sunan Arba'ah, Musnad Ahmad no. 16643].
Demikianlah, syari’at yang mulia ini telah mengatur penghormatan kepada umat muslim yang sudah tua. Senantiasa ditekankan kepada yang lebih muda untuk memuliakan mereka, berlemah lembut kepada mereka terutama dalam memberitahukan masalah diin (agama) dan tidak mendahului suara mereka bila mereka melakukan penentangan. Yang demikian adalah termasuk adab yang baik yang mana telah dicontohkan oleh para salafus shalih. Maka Allah dan RasulNya telah menjamin surga untuk kita.
Syaikh Saliim bin ‘Iid Al-Hilaaliy hafizhahullah berkata, “Masyarakat Muslim merupakan satu bangunan ideal yang saling menguatkan antar komponennya, yang kecil (muda) memperoleh kasih-sayang, sementara yang dewasa mendapatkan penghormatan”. [Bahjatun Naazhiriin 1/426].
Semoga yang singkat ini bermanfaat bagi kita dan pribadi saya. untuk menghormati yg lebih tua dan mendahulukan yg lebih baik.
begitu juga sebaliknya yg lebih tua semoga slalu menebarkan rasa kasih sayangnya.smoga bukan sifat yang membanggakan diri.
Wallaahu a’lamu bisshawab.
Maraji’ :
Mukhtashar Syu’ab Al-Imaan li Al-Imaam Al-Baihaqiy, karya Al-Imaam Abu Al-Ma’aliy ‘Umar bin ‘Abdurrahman Al-Qazwiniy, tahqiq dan takhrij Syaikh ‘Abdul Qaadir Al-Arnaa’uth
-dengan penambahan seperlunya-
Selasa, 23 September 2014
HAKIKAT IHLAS
Oleh: KH. Dr. A. Mustofa Bisri
Kami, aku dan kakakku Kiai Cholil Bisri, mendengar dari guru kami Syeikh Yasin Al-Fadani dan ayah kami Kiai Bisri Mustofa --rahimahumuLlah, masing-2 berkata: Aku bertanya kpd Sayyid Guru Umar Hamdan ttg hakikat IKHLAS, dan beliau pun berkata: Aku pernah bertanya kpd guruku Syeikh Sayyid Muhammad Ali Al-Witri ttg hal itu dan beliau berkata, Aku pernah bertanya ttg hal itu kpd guruku Syeikh Abdul Ghani Al-Mujaddidi, beliau berkata: Aku pernah bertanya kepada guruku Syeikh Muhammad Abid As-Sindi Al-Anshari, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Shiddiq bin Ali Al-Mizjaji,
beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada ayahku, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Hasan Al-Ujaimi, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ahmad al-Qasysyasyi, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ahmad Syanaawi, beliau berkat: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada ayahku Syeikh Ali Asy-Syanaawi, dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Abdul Wahhab Asy-Sya'rani dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Al-Haafizh Jalaluddin As-Suyuthi, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada A'isyah binti Jaarullah bin Shaleh Ath-Thabari, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Shiddiq dan beliau berkata: Aku bertanya ttg hal itu kpd Syeikh Abul Abbas Al-Hajjar dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Jakfar Ibn Ali AL-Hamdani, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Abul Qasim bin Basykual, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Qadhi Abu Bakar bin aL-'Arabi, beliau berkata: Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ismail bin Muhammad Al-Fadhal Al-Ashbihani, beliau berkata: Aku pernah menanyakan halitu kepada Syeikh Abu Bakar bin Ahmad bin Ali bin Khalaf dan beliau berkata: Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Abdurrahman Al-Baihaqi dan beliau berkata: Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ali bin Sa'id Ats-Tsaghrai dan Syeikh Ahmad bin Muhammad bin Zakaria dan beliau berdua berkata: Kami pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ali bin Ibrahim Asy-Syaqiqi dan beliau berkata: Aku pernaha menanyakan hal itu kepada Syeikh Abu Ya'qub Asy-Syaruthi, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh AHmad bin Ghassan dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Ahmad bin 'Atha' Al-Hujaimi, beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Syeikh Abdul Wahid bin Zaid dan beliau berkata: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Imam Hasan Al-Bashari, beliau menjawab, Aku pernah bertanya kepada shahabat Hudzaifah r.a, beliau menjawab: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW ikhlas itu apa, beliau menjawab: Aku pernah menanyakan ttg ikhlas itu kpd malaikat Jibril a.s dan beliau menjawab: Aku pernah bertanya ttg hal itu kepada Allah Rabbul 'Izzaah, dan IA menjawab: "IKHLAS ialah RAHASIA di antara rahasia-rahasiaKU yg KUtitipkan di hati hambaKU yg AKu cintai."
LEBARAN
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada shahabat-shahabatnya: “Tahukah kalian siapa itu yang disebut orang bangkrut?” Mereka pun menjawab, “Kalau di kita, orang bangkrut ialah orang yang sudah tak lagi punya uang dan barang.”
Ternyata Nabi Muhammad SAW mempunyai maksud lain. Terbukti beliau berkata: “Sesungguhnya orang bangkrut di antara umatku ialah yang datang di hari kiamat kelak dengan membawa pahala-pahala salat, puasa, dan zakat; namun dalam pada itu sebelumnya pernah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, dan memukul ini. Maka dari pahala-pahala kebaikannya, akan diambil dan diberikan kepada si ini dan si itu, kepada orang-orang yang yang telah ia lalimi. Jika pahala-pahala kebaikannya habis sebelum semua yang menjadi tanggungannya terhadap orang-orang dipenuhi, maka akan diambil dari keburukan-keburukan orang-orang itu dan ditimpakan kepadanya; kemudian dia pun dilemparkan ke neraka.” (Dari hadis shahih riwayat imam Muslim bersumber dari shahabat Abu Hurairah). Na’udzu billah min dzalik.
Dari pernyataan Nabi Muhammad SAW tersebut, kita menjadi tahu betapa pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama. Sering sekali kita menyaksikan orang yang mengaku umatnya Nabi Muhammad SAW seperti sangat mengandalkan amal ibadahnya bagi keselamatan dan kebahagiaannya di akhirat kelak. Orang ini begitu yakin akan selamat dari neraka dan akan masuk ke sorga karena dia merasa sudah melaksanakan sembahyang, puasa, zakat, dan haji. Bahkan sering kita melihat orang yang seperti itu kemudian memandang sebelah mata kepada orang lain yang dinilainya tidak setekun dia dalam beribadah.
Sedemikian yakinnya orang yang mengandalkan amal ibadah ritualnya itu, sehingga acap kali tidak menghiraukan orang lain dan tidak merasa perlu menjaga hubungan baik dengan sesama. Maka kita menyaksikan setiap hari seorang muslim dengan ringan melecehkan sesama saudaranya. Maka kita menyaksikan seorang haji –bahkan hampir setiap tahun naik haji—yang memperlakukan buruh-buruhnya secara tidak manusiawi. Menyaksikan orang yang rajin puasa tapi sekaligus rajin memakan harta rakyat. Kita menyaksikan orang yang rajin sembahyang sekaligus rajin merampas hak orang lain. Kita menyaksikan ustadz yang rajin mengkhotbahi orang dan sekaligus memprovokasi untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap sesama. Menyaksikan kelompok orang beragama tanpa merasa bersalah melakukan tindakan sewenang-wenang kepada hamba-hamba Allah karena merasa lebih benar dan lebih dekat kepadaNya. Dan seterusnya dan sebagainya.
Melihat sabda Nabi Muhammad SAW di atas, nyatalah bahwa meskipun orang pulang ke alam baka dengan membawa bekal banyak berupa ibadah-ibadah ritual, bisa bangkrut bila tidak menjaga hubungannya dengan sesama. Ketika di dunia banyak menyakiti dan merampas hak orang.
Maka sungguh bijaksana leluhur kita yang mentradisikan adanya halal-bi-halal setelah ritual puasa Ramadan. Dengan puasa dan salat malam di bulan Ramadan, diharapkan dosa-dosa yang langsung terhadap Allah, telah diampuni sesuai sabda Rasulullah SAW, “Man shaama Ramadhaana iimaanan waihtisaaban ghufira lahu maa taqaddama min dzanbihi.”, Barangsiapa puasa Ramadan karena iman dan mencari pahala Allah, maka akan diampuni dosanya yang sudah-sudah. “Man qaama Ramadhaana…” Barangsiapa mendirikan ibadah di bulan Ramadan karena iman dan mencari pahala Allah, maka akan diampuni dosanya yang sudah-sudah.
Setelah itu untuk menyempurnakan kefitrian kita sebagai manusia, ditradisikanlah saling bersilaturahmi dengan tujuan utama untuk saling memaafkan dan saling menghalalkan. Halal-bi-halal. Jangan sampai kesalahan-kesalahan terhadap sesama manusia kelak menjadi ganjalan dan menyita modal amal baik kita. Dengan demikian kita benar-benar lebaran, lepas dari ganjalan-ganjalan dan terbebaskan dari dosa-dosa baik yang langsung terhadap Tuhan maupun yang terhadap sesama hamba.
Sayangnya, di zaman modern ini, tradisi mulia lebaran dan halal-bi-halal tersebut sudah semakin terkikis maknanya. Upacara ‘mudik’ yang terus berlangsung pun, umumnya lebih merupakan ritual kangen-kangenan antar kerabat sendiri. Tradisi ‘open house’ juga lebih merupakan kunjungan silaturahmi seremonial bawahan kepada atasan. Tidak ada atau sudah jarang ada silaturahmi seperti dulu yang secara khusus berniat melebur kesalahan dan mencari kehalalan tanggungan yang terlanjur diperbuat terhadap sesama.
Ternyata Nabi Muhammad SAW mempunyai maksud lain. Terbukti beliau berkata: “Sesungguhnya orang bangkrut di antara umatku ialah yang datang di hari kiamat kelak dengan membawa pahala-pahala salat, puasa, dan zakat; namun dalam pada itu sebelumnya pernah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta ini, mengalirkan darah itu, dan memukul ini. Maka dari pahala-pahala kebaikannya, akan diambil dan diberikan kepada si ini dan si itu, kepada orang-orang yang yang telah ia lalimi. Jika pahala-pahala kebaikannya habis sebelum semua yang menjadi tanggungannya terhadap orang-orang dipenuhi, maka akan diambil dari keburukan-keburukan orang-orang itu dan ditimpakan kepadanya; kemudian dia pun dilemparkan ke neraka.” (Dari hadis shahih riwayat imam Muslim bersumber dari shahabat Abu Hurairah). Na’udzu billah min dzalik.
Dari pernyataan Nabi Muhammad SAW tersebut, kita menjadi tahu betapa pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama. Sering sekali kita menyaksikan orang yang mengaku umatnya Nabi Muhammad SAW seperti sangat mengandalkan amal ibadahnya bagi keselamatan dan kebahagiaannya di akhirat kelak. Orang ini begitu yakin akan selamat dari neraka dan akan masuk ke sorga karena dia merasa sudah melaksanakan sembahyang, puasa, zakat, dan haji. Bahkan sering kita melihat orang yang seperti itu kemudian memandang sebelah mata kepada orang lain yang dinilainya tidak setekun dia dalam beribadah.
Sedemikian yakinnya orang yang mengandalkan amal ibadah ritualnya itu, sehingga acap kali tidak menghiraukan orang lain dan tidak merasa perlu menjaga hubungan baik dengan sesama. Maka kita menyaksikan setiap hari seorang muslim dengan ringan melecehkan sesama saudaranya. Maka kita menyaksikan seorang haji –bahkan hampir setiap tahun naik haji—yang memperlakukan buruh-buruhnya secara tidak manusiawi. Menyaksikan orang yang rajin puasa tapi sekaligus rajin memakan harta rakyat. Kita menyaksikan orang yang rajin sembahyang sekaligus rajin merampas hak orang lain. Kita menyaksikan ustadz yang rajin mengkhotbahi orang dan sekaligus memprovokasi untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap sesama. Menyaksikan kelompok orang beragama tanpa merasa bersalah melakukan tindakan sewenang-wenang kepada hamba-hamba Allah karena merasa lebih benar dan lebih dekat kepadaNya. Dan seterusnya dan sebagainya.
Melihat sabda Nabi Muhammad SAW di atas, nyatalah bahwa meskipun orang pulang ke alam baka dengan membawa bekal banyak berupa ibadah-ibadah ritual, bisa bangkrut bila tidak menjaga hubungannya dengan sesama. Ketika di dunia banyak menyakiti dan merampas hak orang.
Maka sungguh bijaksana leluhur kita yang mentradisikan adanya halal-bi-halal setelah ritual puasa Ramadan. Dengan puasa dan salat malam di bulan Ramadan, diharapkan dosa-dosa yang langsung terhadap Allah, telah diampuni sesuai sabda Rasulullah SAW, “Man shaama Ramadhaana iimaanan waihtisaaban ghufira lahu maa taqaddama min dzanbihi.”, Barangsiapa puasa Ramadan karena iman dan mencari pahala Allah, maka akan diampuni dosanya yang sudah-sudah. “Man qaama Ramadhaana…” Barangsiapa mendirikan ibadah di bulan Ramadan karena iman dan mencari pahala Allah, maka akan diampuni dosanya yang sudah-sudah.
Setelah itu untuk menyempurnakan kefitrian kita sebagai manusia, ditradisikanlah saling bersilaturahmi dengan tujuan utama untuk saling memaafkan dan saling menghalalkan. Halal-bi-halal. Jangan sampai kesalahan-kesalahan terhadap sesama manusia kelak menjadi ganjalan dan menyita modal amal baik kita. Dengan demikian kita benar-benar lebaran, lepas dari ganjalan-ganjalan dan terbebaskan dari dosa-dosa baik yang langsung terhadap Tuhan maupun yang terhadap sesama hamba.
Sayangnya, di zaman modern ini, tradisi mulia lebaran dan halal-bi-halal tersebut sudah semakin terkikis maknanya. Upacara ‘mudik’ yang terus berlangsung pun, umumnya lebih merupakan ritual kangen-kangenan antar kerabat sendiri. Tradisi ‘open house’ juga lebih merupakan kunjungan silaturahmi seremonial bawahan kepada atasan. Tidak ada atau sudah jarang ada silaturahmi seperti dulu yang secara khusus berniat melebur kesalahan dan mencari kehalalan tanggungan yang terlanjur diperbuat terhadap sesama.
DOA IJAZAH RASULULLAH SAW KEPADA SHAHABAT ABU BAKAR ASH-SHIDDIEQ R.A.
اللهم إني ظلمت نفسي ظلما كثيرا ولا يغفر الذنوب إلا أنت فاغفر لي مغفرة من عندك وارحمني إنك أنت الغفور الرحيم
Allahumma innii zhalamtu nafsi zhulman katsiiran walaa yaghfirudz-dzunuuba illaa Anta faghfir lii maghfiratan min ‘indika warhamnii, innaKa Anatal Ghafuurur Rahiim.
(Ya Allah ya Tuhanku, aku sunggu telah banyak ‘menganiaya’ diriku sendiri dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau; maka berilah ampunan kepadaku ampunan dari sisiMu dan kasihilah aku. Sungguh Engkaulah Sang Maha Pengampun dan Maha Pengasih).
Dibaca dalam shalat, ketika sujud.
Bahasa Geram
Oleh: KH. Dr. A. Mustofa Bisri
Bangsa ini sedang terserang virus apa sebenarnya? Apakah hanya karena panas global? Di rumah, di jalanan, di lapangan bola, di gedung dapur, bahkan di tempat-tempat ibadah, kita menyaksikan saja orang yang marah-marah. Tidak hanya laku dan tindakan, ujaran dan kata-kata pun seolah-olah dipilih yang kasar dan menusuk. Seolah-olah di negeri ini tidak lagi ada ruang untuk kesantunan pergaulan. Pers pun –apalagi teve--tampaknya suka dengan berita dan tayangan-tayangan kemarahan.
Lihatlah “bahasa” orang-orang terhormat di forum-forum terhormat itu dan banding-sandingkan dengan tingkah laku umumnya para demonstran di jalanan. Seolah-olah ada “kejumbuhani” pemahaman antara para “pembawa aspirasi” gedongan dan “pembawa aspirasi” jalanan tentang “demokrasi”. Demokrasi yang–setelah euforia reformasi--dipahami sebagai sesuatu tatanan yang mesti bermuatan kekasaran dan kemarahan.
Yang lebih musykil lagi “bahasa kemarahan” ini juga sudah seperti tren pula di kalangan intelektual dan agamawan. Khotbah-khotbah keagamaan, ceramah-ceramah dan makalah-makalah ilmiah dirasa kurang afdol bila tidak disertai dengan dan disarati oleh nada geram dan murka. Seolah-olah tanpa gelegak kemarahan dan tusuk sana tusuk sini bukanlah khotbah dan makalah sejati.
Khususnya di ibu kota dan kota-kota besar lainnya, di hari Jumat, misalnya, Anda akan sangat mudah menyaksikan dan mendengarkan khotbah “ustadz” yang dengan kebencian luar biasa menghujat pihak-pihak tertentu yang tidak sealiran atau sepaham dengannya. Nuansa nafsu atau keangkuhan “Orang Pintar Baru” (OPB) lebih kental terasa dari pada semangat dan ruh nasihat keagamaan dan ishlah.
Kegenitan para ustadz OPB yang umumnya dari perkotaan itu seiiring dengan munculnya banyak buku, majalah, brosur dan selebaran yang “mengajarkan” kegeraman atas nama amar makruf nahi munkar atau atas nama pemurnian syariat Islam. Penulis-penulisnya–yang agaknya juga OPB—di samping silau dengan paham-paham dari luar, boleh jadi juga akibat terlalu tinggi menghargai diri sendiri dan terlalu kagum dengan “pengetahuan baru”-nya. Lalu menganggap apa yang dikemukakannya merupakan pendapatnya dan pendapatnya adalah kebenaran sejati satu-satunya. Pendapat-pendapat lain yang berbeda pasti salah. Dan yang salah pasti jahanam.
Dari bacaan-bacaan, ceramah-ceramah, khotbah-khotbah dan ujaran-ujaran lain yang bernada geram dan menghujat sana-sani tersebut pada gilirannya menjalar-tularkan bahasa tengik itu kemana-mana; termasuk ke media komunikasi internet dan handphone. Lihatlah dan bacalah apa yang ditulis orang di ruang-ruang yang khusus disediakan untuk mengomentari suatu berita atau pendapat di “dunia maya” atau sms-sms yang ditulis oleh anonim itu.
Kita boleh beranalisis bahwa fenomena yang bertentangan dengan slogan “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah” tersebut akibat dari berbagai faktor, terutama karena faktor tekanan ekonomi, ketimpangan sosial dan ketertinggalan. Namun, mengingat bahwa mayoritas bangsa ini beragama Islam pengikut Nabi Muhammad SAW, fenomena tersebut tetap saja musykil. Apalagi jika para elit agama yang mengajarkan budi pekerti luhur itu justru ikut menjadi pelopor tren tengik tersebut.
Bagi umat Islam, al-khairu kulluhu fittibaa’ir Rasul SAW, yang terbaik dan paling baik adalah mengikuti jejak dan perilaku panutan agung, Nabi Muhammad SAW. Dan ini merupakan perintah Allah. Semua orang Islam, terutama para pemimpinnya, pastilah tahu semata pribadi, jejak-langkah dan perilaku Nabi mereka.
Nabi Muhammad SAW sebagaimana diperikan sendiri oleh Allah dalam al-Quran, memiliki keluhuran budi yang luar biasa, pekerti yang agung (Q. 68:4). Beliau lemah lembut, tidak kasar dan kaku (Q. 3: 159). Bacalah kesaksian para shahabat dan orang-orang dekat yang mengalami sendiri bergaul dengan Rasulullah SAW. Rata-rata mereka sepakat bahwa Panutan Agung kita itu benar-benar teladan. Pribadi paling mulia; tidak bengis, tidak kaku, tidak kasar, tidak suka mengumpat dan mencaci, tidak menegur dengan cara yang menyakitkan hati, tidak membalas keburukan dengan keburukan, tapi memilih memaafkan. Beliau sendiri menyatakan, seperti ditirukan oleh shahabat Jabir r.a,“InnaLlaaha ta’aala lam yab’atsnii muta’annitan...”, Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai utusan yang keras dan kaku, tapi sebagai utusan yang memberi pelajaran dan memudahkan.
Bagi Nabi Muhammad SAW pun, orang yang dinilainya paling mulia bukanlah orang yang paling pandai atau paling fasih bicara (apalagi orang pandai yang terlalu bangga dengan kepandaiannya sehingga merendahkan orang atau orang fasih yang menggunakan kefasihannya untuk melecehkan orang). Bagi Rasulullah SAW orang yang paling mulia ialah orang yang paling mulia akhlaknya. Wallahu a’lam.
Menjaga perasaan
Menjaga perasaan orang lain, termasuk dalam menyampaikan apa yang kita anggap sebagai kebenaran, termasuk kearifan dan keluhuran budi.
Langganan:
Postingan (Atom)

